KAUR, BENGKULU (GemaNegeri.com) – Sebuah peristiwa memilukan terjadi di Desa Sinar Mulya, Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur, Bengkulu, Kamis (15/10/2026). Jenazah seorang warga lanjut usia terpaksa ditandu sejauh sekitar 12 kilometer selama lima jam setelah ambulans yang mengangkutnya tidak mampu melanjutkan perjalanan akibat kondisi jalan yang rusak parah.
Peristiwa ini bukan sekadar kisah perjuangan keluarga mengantarkan anggota keluarganya ke peristirahatan terakhir. Di balik prosesi pemakaman yang menguras tenaga dan emosi tersebut, tersingkap persoalan mendasar mengenai akses infrastruktur dan pelayanan publik bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil.
Almarhumah Juleha (60), warga Dusun K9, Desa Sinar Mulya, meninggal dunia di RSUD Cahaya Batin Kaur. Jenazah diberangkatkan dari rumah sakit menggunakan ambulans sekitar pukul 06.00 WIB.
Namun, setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, ambulans tidak dapat melanjutkan perjalanan menuju rumah duka. Kondisi jalan yang rusak parah membuat kendaraan roda empat itu tak mampu menembus akses menuju permukiman warga.
Keluarga yang telah menunggu kepulangan almarhumah bersama puluhan warga akhirnya mengambil alih proses pengantaran jenazah.
Dengan peralatan sederhana berupa bambu dan kain batik, jenazah ditandu dan dipikul secara bergantian. Warga harus menyusuri jalan tanah berbatu dan berlumpur, menempuh jarak sekitar 12 kilometer dalam kondisi yang jauh dari kata layak.
Perjalanan tersebut berlangsung sekitar lima jam hingga jenazah akhirnya tiba di rumah duka untuk dimakamkan.
Pemandangan warga yang bergotong royong menandu jenazah di tengah kondisi jalan yang sulit itu kemudian menyita perhatian publik setelah foto-fotonya beredar luas di media sosial.
Solidaritas warga dalam mengantarkan jenazah patut diapresiasi. Di tengah keterbatasan, masyarakat menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan dan gotong royong masih menjadi kekuatan penting ketika keluarga menghadapi situasi paling berat dalam hidupnya.
Namun, apresiasi terhadap solidaritas tersebut tidak semestinya membuat persoalan utama terabaikan.
Ketika ambulans tidak mampu mencapai rumah warga karena jalan yang rusak, pertanyaan yang patut diajukan bukan hanya seberapa kuat masyarakat bergotong royong, melainkan juga seberapa memadai akses infrastruktur yang seharusnya menjamin keselamatan dan kelancaran kehidupan mereka.
Jalan bukan sekadar bentangan tanah atau jalur penghubung antarpemukiman. Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pelayanan, jalan merupakan urat nadi untuk mengakses fasilitas kesehatan, pendidikan, kegiatan ekonomi, dan berbagai layanan dasar lainnya.
Dalam keadaan darurat, akses jalan bahkan dapat menentukan seberapa cepat pertolongan medis tiba. Sementara dalam peristiwa kematian, kondisi jalan yang tidak memadai dapat menambah beban fisik dan emosional keluarga yang sedang berduka.
Karena itu, kejadian di Desa Sinar Mulya seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah, khususnya instansi yang bertanggung jawab atas pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Kaur segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki akses jalan menuju dusun di Desa Sinar Mulya yang selama ini dinilai menjadi hambatan utama mobilitas masyarakat.
Harapan tersebut bukan semata-mata tuntutan atas pembangunan fisik, melainkan kebutuhan mendasar agar warga memperoleh akses yang lebih layak terhadap pelayanan publik.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari proyek yang selesai atau anggaran yang terserap. Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat, terutama mereka yang tinggal di wilayah dengan akses terbatas.
Hingga jalan tersebut dapat dilalui kendaraan secara layak, warga masih harus menghadapi risiko dan kesulitan ketika membutuhkan layanan darurat maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.
Lima jam perjalanan untuk mengantarkan jenazah sejauh 12 kilometer menjadi gambaran nyata betapa beratnya konsekuensi ketika akses jalan tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Kini, masyarakat menantikan respons dan langkah konkret pemerintah daerah. Sebab, warga tidak seharusnya terus-menerus mengandalkan kekuatan gotong royong untuk menutupi persoalan infrastruktur yang membutuhkan penanganan serius.
Di tengah duka keluarga Juleha, ada harapan yang lebih luas: agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi dan setiap warga, di mana pun mereka tinggal, memiliki akses jalan yang layak serta kesempatan yang sama untuk memperoleh pelayanan dasar.
(Kif)













