Alam Cahayo: Menang Tanpa Kehilangan Jati Diri

  • Bagikan

KUANSING (Gemanegri.com)- Di tengah semakin maraknya penggunaan atlet dayung profesional yang didatangkan untuk memperkuat sejumlah jalur, Desa Sikakak, Kecamatan Cerenti, justru memilih jalan yang berbeda. Mereka tetap mempercayakan Alam Cahayo Tuah Nagori kepada anak pacu dari kampung sendiri.

Pilihan itu bukan karena mereka tidak mampu mendatangkan atlet dari luar. Bukan pula karena mereka menolak perkembangan zaman. Lebih dari itu, pilihan tersebut lahir dari keyakinan bahwa pacu jalur bukan sekadar perlombaan untuk mencari siapa yang tercepat, tetapi warisan kebudayaan yang di dalamnya hidup doa, marwah kampung, kekompakan, persaudaraan, dan rasa memiliki.

Bagi masyarakat Sikakak, kekuatan sebuah jalur tidak hanya terletak pada tenaga yang mengayuh dayung. Ada kekuatan lain yang tidak terlihat, tetapi terasa kuat di sepanjang tepian sungai: doa orang tua, teriakan masyarakat, dukungan anak negeri, serta keyakinan bahwa anak-anak kampung sendiri mampu mengharumkan nama desanya.

Setiap kali Alam Cahayo Tuah Nagori memasuki gelanggang, yang mereka pertaruhkan bukan sekadar kemenangan. Mereka membawa nama Desa Sikakak, membawa harapan masyarakat, dan membawa sebuah keyakinan bahwa kebudayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi harus tetap memiliki ruh dan marwahnya.

Karena itulah, setiap laga menjadi lebih dari sekadar adu cepat. Di sepanjang tepian sungai, suara masyarakat menjadi penyambung semangat. Doa dipanjatkan. Nama jalur diteriakkan. Harapan dititipkan kepada anak pacu yang berada di atas jalur.

Dan ketika akhirnya kemenangan diraih, tidak terdengar kalimat, “Jalur kita menang.”

Yang terdengar justru sebuah kalimat sederhana, tetapi penuh makna: “KITA MENANG!”

Sebab bagi masyarakat Sikakak, kemenangan itu bukan milik beberapa orang yang berada di atas jalur. Kemenangan itu adalah milik seluruh masyarakat desa. Milik mereka yang berteriak di tepian. Milik mereka yang berdoa dari kejauhan. Milik mereka yang bekerja dan bergotong royong mempersiapkan jalur. Dan milik seluruh masyarakat yang sejak awal menaruh kepercayaan kepada anak pacunya sendiri.

Di sinilah letak kebanggaan Alam Cahayo Tuah Nagori.

Di saat sebagian jalur memilih memperkuat barisan anak pacu dengan atlet dayung profesional dari luar daerah demi mengejar prestasi, masyarakat Sikakak tetap mempertahankan keyakinannya terhadap kekuatan anak negeri.

Bahkan ada jalur yang mendatangkan satu tim penuh atlet profesional dari berbagai daerah, termasuk dari Jawa Barat, Jambi dan daerah lainnya. Pilihan itu tentu merupakan bagian dari strategi untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat.

Namun, di tengah perubahan tersebut, muncul sebuah pertanyaan besar:

Apakah pacu jalur hanya akan menjadi pertandingan untuk mengejar gelar juara, atau tetap menjadi kebudayaan yang mempertemukan seluruh masyarakat dalam semangat kebersamaan?

Sebab ketika kekuatan utama sebuah jalur sepenuhnya diserahkan kepada orang-orang yang didatangkan dari luar, ada sesuatu yang dikhawatirkan perlahan ikut berubah: hubungan emosional antara jalur dan masyarakatnya.

Sorakan di tepian bukan lagi sekadar dukungan kepada anak kampung sendiri. Doa yang dipanjatkan pun terasa berbeda. Rasa memiliki terhadap perjuangan anak pacu dari kampung sendiri berpotensi semakin berkurang.

Bukan berarti mendatangkan atlet profesional adalah sesuatu yang salah. Persaingan dan perkembangan zaman memang tidak bisa dihindari.

Namun, jangan sampai kemenangan membuat kita lupa bahwa pacu jalur lahir dari masyarakat, tumbuh dari masyarakat, dan selama ratusan tahun hidup bersama masyarakat di sepanjang aliran Sungai Kuantan hingga wilayah Indragiri Hulu.

Dan pada 23 Agustus 2026, Alam Cahayo Tuah Nagori kembali memperlihatkan bahwa keyakinan terhadap anak negeri belum kehilangan kekuatannya.

Anak-anak pacu Sikakak mungkin tidak semuanya memiliki tubuh sebesar atlet profesional yang ditempa dengan program latihan khusus. Mereka mungkin bukan atlet yang setiap hari berada di pusat pelatihan.

Tetapi mereka memiliki sesuatu yang tidak bisa diukur hanya dengan ukuran otot.

Mereka memiliki rasa memiliki.

Mereka memiliki doa masyarakatnya.

Mereka memiliki teriakan kampungnya.

Mereka memiliki kepercayaan orang-orang yang berdiri di sepanjang tepian.

Dan yang paling penting, mereka memiliki keyakinan bahwa jalur yang mereka kayuh adalah milik bersama.

Kekuatan itulah yang membuat mereka mampu memberikan perlawanan dan mengimbangi jalur yang diperkuat atlet dayung profesional.

Hingga akhirnya, di Tepian NaRosa, Alam Cahayo Tuah Nagori dinobatkan sebagai pemenang dan meraih puncak gelar juara Pacu Jalur 2026, setelah menumbangkan Bintang Emas Cahaya Intan yang diperkuat atlet dayung profesional asal Jawa Barat yang didatangkan Pemuda Batak Kuansing (PBK).

Kemenangan itu bukan sekadar angka di papan hasil pertandingan.

Bagi masyarakat Sikakak, kemenangan tersebut adalah sebuah pesan:

Bahwa kebudayaan tidak selalu harus dikalahkan oleh modernisasi.

Bahwa tradisi masih bisa berdiri tegak di tengah persaingan yang semakin profesional.

Dan bahwa kekuatan sebuah jalur tidak selalu berada pada siapa yang paling besar ototnya, tetapi juga pada seberapa besar masyarakat percaya kepada anak-anak negerinya sendiri.

Alam Cahayo Tuah Nagori telah mengajarkan satu hal penting:

Pacu Jalur bukan hanya tentang siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Pacu Jalur adalah tentang siapa yang tetap membawa marwah kampung, kekompakan masyarakat, doa, dan kebudayaan sampai ke garis kemenangan.

Karena ketika jalur itu menang, sesungguhnya bukan hanya anak pacu yang menang. Seluruh kampung ikut menang. Dan ketika seluruh kampung merasa menang, di situlah marwah Pacu Jalur masih hidup.(DONI)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *