Razia PETI di Pulau Jambu Diduga Bocor, Puluhan Rakit Kabur Sebelum Polisi Tiba

  • Bagikan

CERENTI (GemaNegeri.com) – Upaya penertiban aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan Pulau Jambu, Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuantan Singingi, kembali memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat. Operasi yang dilakukan aparat Polsek Cerenti pada sore hari berhasil memusnahkan lima unit rakit PETI, namun fakta di lapangan menunjukkan puluhan rakit lainnya diduga telah lebih dahulu melarikan diri dari lokasi beberapa jam sebelum penertiban dilakukan. Senin (1/6/2026).

Kondisi ini memunculkan dugaan adanya kebocoran informasi terkait rencana operasi yang akan dilaksanakan aparat kepolisian.

Dugaan tersebut menguat setelah beredarnya sebuah video di media sosial yang memperlihatkan puluhan rakit PETI bergerak meninggalkan kawasan Pulau Jambu pada pagi hari. Dalam rekaman yang diambil warga tersebut, terlihat rakit-rakit penambang beriringan menyusuri aliran sungai, seolah menghindari sesuatu yang akan terjadi.

Video itu bahkan disertai narasi bernada sindiran, “abi lapak latian pacu!!”, yang diduga merujuk pada ramainya lalu lintas rakit di sungai yang biasa digunakan masyarakat sebagai area aktivitas olahraga dan latihan dayung pada Ahad (31/5/2026).

Beberapa jam setelah video tersebut direkam, aparat Polsek Cerenti diketahui melakukan operasi penertiban di lokasi yang sama. Namun ketika petugas tiba, sebagian besar rakit yang sebelumnya terlihat dalam video sudah tidak berada di tempat.

Dalam operasi itu, polisi hanya menemukan sejumlah rakit yang tertinggal dan kemudian melakukan tindakan tegas dengan membakar lima unit rakit PETI yang masih berada di lokasi.

Perbedaan mencolok antara jumlah rakit yang terlihat meninggalkan lokasi pada pagi hari dengan jumlah rakit yang berhasil diamankan saat penertiban sore hari menjadi perhatian publik. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana para pelaku dapat mengetahui lebih dahulu adanya operasi sehingga memiliki waktu cukup untuk mengevakuasi peralatan mereka.

Dugaan kebocoran informasi pun kembali mencuat, mengingat pola serupa disebut-sebut bukan kali pertama terjadi dalam penanganan aktivitas PETI di wilayah tersebut.

Di sisi lain, masyarakat tetap memberikan apresiasi terhadap langkah aparat yang melakukan penertiban.

Namun mereka berharap operasi semacam ini tidak berhenti pada pemusnahan beberapa unit rakit semata.

Warga menilai persoalan PETI bukan hanya menyangkut keberadaan rakit di sungai, tetapi juga berkaitan dengan kerusakan lingkungan, pencemaran air, gangguan terhadap aktivitas masyarakat, hingga potensi konflik sosial yang dapat muncul akibat aktivitas tambang ilegal tersebut.

“Kami tentu mendukung langkah aparat melakukan penertiban. Tetapi yang diharapkan masyarakat adalah hasil yang benar-benar memberikan efek jera.

Jangan sampai hari ini dibakar, beberapa hari kemudian aktivitasnya kembali berjalan seperti biasa,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Menurut warga, penindakan yang berkelanjutan jauh lebih penting dibanding operasi sesaat yang tidak menghasilkan perubahan berarti di lapangan. Mereka berharap pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta instansi terkait dapat bersinergi melakukan pengawasan secara intensif.

Selain itu, masyarakat juga meminta adanya penyelidikan terhadap kemungkinan bocornya informasi operasi. Jika benar terdapat pihak yang memberi tahu pelaku sebelum penertiban dilakukan, maka hal tersebut dinilai dapat melemahkan upaya pemberantasan PETI yang selama ini menjadi perhatian berbagai pihak.

Pulau Jambu sendiri selama beberapa waktu terakhir kerap menjadi sorotan akibat maraknya aktivitas PETI di sepanjang aliran sungai. Praktik penambangan ilegal tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap kualitas lingkungan dan keberlanjutan ekosistem sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Kini masyarakat menunggu langkah lanjutan aparat pasca-operasi tersebut.

Harapan mereka sederhana: penertiban tidak berhenti pada pembakaran lima rakit, melainkan menjadi awal dari penegakan hukum yang konsisten dan berkelanjutan sehingga kawasan sungai benar-benar terbebas dari aktivitas PETI.

Sebab bagi masyarakat, persoalan utama bukan berapa banyak rakit yang dibakar, melainkan apakah setelah razia usai, aktivitas tambang ilegal itu benar-benar berhenti atau justru kembali beroperasi seperti sebelumnya.*(team)

Penulis: teamEditor: redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *