Kasus DBD Muncul di Air Emas, Dinas Kesehatan Kuansing Bergerak Lakukan Fogging

  • Bagikan

KUANTAN SINGINGI (GemaNegeri.com) – Musim hujan yang kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Kuantan Singingi membawa kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat. Selain menghadirkan kesejukan dan kesuburan bagi alam, genangan air yang tertinggal di sudut-sudut pemukiman juga menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus dengue penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD).

Penyakit DBD hingga kini masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang perlu diwaspadai. Saat cuaca tak menentu dan hujan turun silih berganti, ancaman penyebaran nyamuk semakin meningkat. Oleh sebab itu, langkah cepat dan pencegahan dini menjadi hal yang sangat penting dilakukan demi melindungi masyarakat dari ancaman penyakit yang dapat berakibat fatal tersebut.

Menindaklanjuti adanya warga Desa Air Emas, Kecamatan Singingi, yang terjangkit DBD, Dinas Kesehatan Kabupaten Kuantan Singingi bergerak cepat dengan melaksanakan kegiatan fogging atau pengasapan pada Rabu sore (20/5/2026).

Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama pihak Puskesmas Sungai Keranji yang diwakili oleh petugas kesehatan, Wiyono. Dengan membawa mesin fogging menyusuri lingkungan warga, petugas melakukan penyemprotan di sejumlah titik yang dianggap rawan menjadi sarang nyamuk.

Wiyono menjelaskan, fogging merupakan salah satu langkah pencegahan penyebaran DBD secara massal yang efektif untuk membunuh nyamuk dewasa di area yang luas.

Menurutnya, tindakan ini dilakukan sebagai bentuk perlindungan terhadap masyarakat agar terhindar dari virus dengue.

“Puskesmas mengambil tindakan ini agar masyarakat terlindungi dari virus dan nyamuk penyebab DBD. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah fogging. Selain rutin melindungi rumah memakai obat nyamuk semprot maupun obat nyamuk bakar, masyarakat juga penting membiasakan menjaga kebersihan lingkungan,” ujarnya.

Ia menerangkan, fogging biasanya dilakukan saat memasuki musim pancaroba ataupun ketika angka kasus DBD mulai meningkat di suatu wilayah.

Namun demikian, fogging bukan satu-satunya solusi. Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan tetap bersih menjadi kunci utama dalam memutus rantai perkembangbiakan nyamuk.

“Nyamuk DBD sangat menyukai genangan air. Karena itu masyarakat perlu rutin menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, dan membersihkan lingkungan sekitar rumah,” tambahnya.

Fogging sendiri merupakan teknik pengendalian vektor penyakit menggunakan racun serangga yang disemprotkan melalui mesin khusus dalam bentuk kabut asap. Asap tersebut bekerja membunuh nyamuk dewasa yang berpotensi menyebarkan virus dengue. Pelaksanaan fogging juga tidak dapat dilakukan sembarangan, melainkan harus berdasarkan aturan dan ketentuan tertentu, terutama ketika ditemukan adanya kasus DBD di suatu wilayah.

Di sela kegiatan, warga tampak antusias dan mendukung langkah cepat yang dilakukan petugas kesehatan. Asap putih perlahan menyelimuti lorong-lorong kampung, masuk ke sela pagar dan semak-semak, seakan menjadi ikhtiar bersama untuk melawan ancaman penyakit yang datang diam-diam lewat dengung nyamuk kecil.

Musim hujan memang membawa kehidupan bagi alam, namun di balik tetes air yang jatuh dari langit, masyarakat juga diingatkan untuk tetap waspada. Sebab terkadang, bahaya terbesar justru tumbuh dari genangan kecil yang luput dari perhatian.*(jt)

Penulis: jakup tariganEditor: aldian syahmubara
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *