Dari Tegang ke Bersalaman, Insiden Tuah Keramat Sialang Soko–Suluh Bendang Berakhir Damai

  • Bagikan

Insiden di Hilir ke-36 Berakhir Damai, Wabup Inhu Datangi Kandang Suluh Bendang dan Beri Bonus Rp3 Juta

KUANSING (GemaNegeri.com) — Pacu Jalur bukan sekadar perkara siapa yang lebih cepat membelah arus Batang Kuantan. Di balik riuh tepian sungai, sorak ribuan pendukung, dan genggaman kayuh yang berpacu dengan waktu, ada nilai yang jauh lebih tua daripada perlombaan itu sendiri: persaudaraan.

Nilai itulah yang kembali menemukan bentuknya setelah insiden yang melibatkan Jalur Tuah Keramat Sialang Soko Bhayangkara Polsek Peranap, asal Desa Setako Raya, Kecamatan Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), dengan Jalur Suluh Bendang Dalam Negeri, asal Desa Titian Modang Kopah, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing).

Insiden tersebut terjadi pada laga di hilir ke-36. Situasi yang sempat memanas akhirnya tidak dibiarkan tumbuh menjadi bara yang merusak suasana Festival Pacu Jalur. Kedua belah pihak memilih jalan yang lebih panjang nilainya: duduk bersama, membuka ruang silaturahmi, lalu menyelesaikan persoalan secara damai.

Pada Sabtu (22/8/2026), sekitar pukul 13.00 WIB, Wakil Bupati Indragiri Hulu bersama Camat Peranap, Danramil 05 Peranap, kepala desa, serta pengurus Jalur Tuah Keramat Sialang Soko mendatangi kandang Jalur Suluh Bendang Dalam Negeri.

Kedatangan rombongan tersebut bukan untuk memperpanjang persoalan. Sebaliknya, pertemuan itu menjadi ruang untuk meredakan ketegangan sekaligus memastikan hubungan baik antarkontingen tetap terjaga.

Suasana pertemuan berlangsung dalam nuansa kekeluargaan. Kedua pihak sepakat menyelesaikan persoalan melalui musyawarah dan tidak memperpanjang insiden yang sebelumnya terjadi di arena pacu.

Pilihan untuk berdamai menjadi penting karena Pacu Jalur bukan hanya milik satu desa, satu kecamatan, atau bahkan satu kabupaten. Tradisi yang hidup di sepanjang Batang Kuantan itu telah menjadi ruang perjumpaan masyarakat dari berbagai daerah.

Di tepian sungai, identitas boleh berhadapan. Jalur boleh saling mengejar. Pendukung boleh bersorak sekeras-kerasnya.

Namun ketika kayuhan berhenti dan perlombaan selesai, yang tersisa adalah manusia dengan manusia.

Kehadiran Wakil Bupati Inhu bersama unsur pemerintahan dan pengurus jalur menjadi pesan bahwa persoalan di arena tidak seharusnya menjalar menjadi permusuhan di luar arena.

Pertemuan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa sportivitas tidak berhenti pada aturan perlombaan. Sportivitas juga diuji ketika terjadi persoalan.

Dalam konteks itu, keberanian untuk datang, bertemu, dan menyelesaikan masalah secara kekeluargaan justru menjadi bagian penting dari semangat Pacu Jalur.

Sebagai bentuk kepedulian sekaligus upaya mempererat hubungan antarkontingen, Wakil Bupati Indragiri Hulu memberikan bonus sebesar Rp3 juta kepada Jalur Suluh Bendang Dalam Negeri.

Pemberian tersebut menjadi simbol bahwa penyelesaian persoalan tidak harus meninggalkan luka. Sebaliknya, pertemuan dapat menjadi jalan untuk memperkuat silaturahmi.

Bonus itu bukan semata soal nominal. Lebih dari itu, ia menjadi pesan bahwa persaudaraan harus ditempatkan lebih tinggi daripada ego kemenangan.

Sebab Pacu Jalur memang lahir dari semangat kebersamaan. Sebuah jalur tidak mungkin bergerak hanya dengan satu orang. Puluhan anak pacu harus menyatukan tenaga, irama, dan keberanian agar perahu panjang itu mampu melesat membelah air.

Begitu pula kehidupan sosial.

Tidak ada masyarakat yang dapat berdiri sendiri tanpa kebersamaan.

Pacu Jalur selalu memiliki dua wajah.

Di satu sisi, ia adalah kompetisi. Setiap jalur datang dengan persiapan, strategi, latihan, doa, dan harapan untuk menjadi yang terdepan.

Di sisi lain, ia adalah pesta kebudayaan. Orang-orang datang bukan hanya untuk melihat siapa yang menang, tetapi juga untuk merayakan pertemuan.

Karena itu, persaingan seharusnya berhenti ketika pertandingan selesai.

Ketika pancang pemisah terakhir telah dilewati, tidak ada lagi alasan untuk membawa ketegangan lintasan menjadi permusuhan antarkampung.

Insiden antara Tuah Keramat Sialang Soko dan Suluh Bendang Dalam Negeri menjadi pengingat bahwa semangat kompetisi harus tetap berada dalam koridor sportivitas.

Sebab satu tindakan yang tidak terkendali dapat merusak suasana yang dibangun oleh ribuan orang selama berhari-hari.

Pacu Jalur adalah wajah kebudayaan. Maka wajah itu harus dijaga bersama.

Kesepakatan damai yang dicapai kedua belah pihak menunjukkan bahwa persoalan dapat diselesaikan tanpa memperbesar konflik.

Tidak semua masalah harus berakhir dengan pertikaian.

Tidak semua perbedaan harus dipertahankan menjadi permusuhan.

Kadang, sebuah pertemuan sederhana jauh lebih kuat daripada seribu kata di tengah kerumunan.

Di kandang jalur, tempat para pendayung menyiapkan tenaga untuk menghadapi perlombaan, kedua pihak memilih menurunkan tensi. Mereka bertemu bukan sebagai lawan, melainkan sebagai sesama bagian dari keluarga besar Pacu Jalur.

Langkah tersebut patut diapresiasi karena menjaga marwah tradisi.

Apalagi Festival Pacu Jalur bukan sekadar pertandingan olahraga tradisional. Ia adalah identitas budaya masyarakat Kuansing dan menjadi magnet yang mempertemukan masyarakat dari berbagai daerah.

Kehadiran kontingen dari Indragiri Hulu memperlihatkan bahwa sungai yang menjadi arena perlombaan juga menjadi jembatan persaudaraan.

Karena itu, insiden apa pun yang terjadi di lintasan seyogianya tidak boleh menghapus tujuan besar dari perhelatan tersebut.

Dengan tercapainya kesepakatan damai, seluruh pendukung dan masyarakat diharapkan dapat kembali menjaga suasana kondusif selama pelaksanaan Pacu Jalur.

Dukungan terhadap jalur masing-masing tetap penting. Sorak-sorai adalah denyut pesta. Semangat adalah nyawa perlombaan.

Tetapi dukungan harus diberikan dengan cara yang tertib, santun, dan sportif.

Jangan sampai kecintaan terhadap jalur berubah menjadi kebencian terhadap jalur lain.

Jangan sampai kebanggaan terhadap kampung sendiri melahirkan penghinaan terhadap kampung lain.

Sebab pada akhirnya, semua datang ke Tepian Narosa dengan satu nama besar: Pacu Jalur.

Dan semua pulang membawa satu cerita tentang bagaimana masyarakat menjaga tradisinya.

Penyelesaian damai antara Tuah Keramat Sialang Soko dan Suluh Bendang Dalam Negeri menjadi salah satu cerita itu.

Cerita bahwa konflik dapat diredam.

Cerita bahwa persaudaraan masih menjadi pilihan.

Dan cerita bahwa kemenangan terbesar dalam sebuah pesta rakyat bukan selalu ketika sebuah jalur mencapai pancang terakhir lebih dahulu, tetapi ketika seluruh masyarakat mampu menjaga persatuan setelah perlombaan berakhir.

Dari lintasan, mereka boleh menjadi lawan.

Di luar lintasan, mereka tetap saudara.

Sebab kayuhan boleh berbeda, tetapi denyut kebersamaan tetap satu.

Dari lintasan kita bersaing, di luar lintasan kita bersaudara. Salam Kayuah! *(far)

Penulis: safarrudinEditor: redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *