TELUK KUANTAN (GemaNegeri.com) — Perhelatan akbar Pacu Jalur Event Nasional 2026 di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, tinggal menghitung hari. Ribuan hingga puluhan ribu orang diperkirakan akan memadati kawasan tepian Sungai Kuantan untuk menyaksikan tradisi balap perahu tradisional yang telah menjadi ikon budaya masyarakat Kuansing. Rabu (12/8/2026).

Namun di balik semarak persiapan pesta budaya tersebut, persoalan klasik kembali muncul ke permukaan. Infrastruktur jalan yang rusak dan persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah menjelang hari pelaksanaan.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik: sejauh mana kesiapan Kabupaten Kuansing menyambut tamu dari berbagai daerah, ketika akses menuju salah satu kawasan utama perhelatan masih menyisakan persoalan mendasar?
Salah satu titik yang menjadi sorotan berada di Desa Seberang Taluk. Jalan di kawasan tersebut dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah. Ironisnya, lokasi itu berada tidak jauh dari pusat kegiatan Pacu Jalur di Tepian Narosa dan berada pada jalur yang berpotensi dilintasi masyarakat maupun pengunjung selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Bagi warga, persoalan tersebut bukan sekadar soal jalan berlubang.
Kerusakan jalan yang berada di kawasan strategis festival budaya dinilai menyentuh langsung wajah daerah di hadapan para tamu yang datang dari luar Kuansing.
Seorang warga Desa Seberang Taluk yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku kecewa melihat kondisi jalan tersebut belum mendapat penanganan serius menjelang perhelatan Pacu Jalur.
“Padahal jalan rusak ini berada tepat di lokasi pengadaan festival Pacu Jalur yang sudah mendunia. Tapi Pemda seakan tidak ada niat untuk mengaspal ulang jalan itu,” ujarnya.
Menurut warga, pemerintah daerah semestinya telah melakukan pemetaan terhadap titik-titik infrastruktur yang menjadi akses utama menuju lokasi kegiatan jauh sebelum pelaksanaan festival.
Sebab, Pacu Jalur bukan lagi sekadar agenda hiburan masyarakat lokal.
Event tersebut telah berkembang menjadi magnet wisata yang membawa nama Kuansing ke luar daerah. Kehadiran pengunjung dari berbagai wilayah otomatis membuat persoalan akses, parkir, sanitasi, kebersihan, hingga kenyamanan jalan menjadi bagian dari kualitas penyelenggaraan.
Kondisi jalan yang rusak di sekitar kawasan kegiatan menjadi paradoks tersendiri.
Di satu sisi pemerintah terus mendorong Pacu Jalur sebagai kekuatan pariwisata dan kebudayaan daerah. Di sisi lain, fasilitas dasar yang menjadi bagian dari pengalaman wisatawan masih menghadapi persoalan.
Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang ke Teluk Kuantan, kesan terhadap sebuah event tidak hanya dibentuk oleh kemeriahan perlombaan di tepian sungai.
Kondisi jalan menuju lokasi, kebersihan kota, ketersediaan tempat sampah, keteraturan lalu lintas, fasilitas umum dan kenyamanan lingkungan juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari wajah sebuah daerah.

Karena itu, kerusakan jalan di Desa Seberang Taluk menjadi perhatian tersendiri. Apalagi titik tersebut berada relatif dekat dengan kawasan utama Pacu Jalur.
Warga berharap pemerintah tidak menunggu sampai rombongan pengunjung berdatangan baru kemudian melakukan penanganan.
Persoalan lain yang tak kalah serius adalah kebersihan.
Menjelang pelaksanaan Pacu Jalur, tumpukan sampah masih ditemukan di sejumlah titik di kawasan Kota Teluk Kuantan.
Tumpukan sampah tersebut tidak hanya mengganggu estetika kota, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan dan kenyamanan apabila tidak segera ditangani.
Kondisi itu menjadi semakin kontras ketika pemerintah daerah tengah bersiap menyambut wisatawan dalam jumlah besar.
Kota yang menjadi pintu masuk para tamu semestinya tampil bersih dan tertata. Apalagi Teluk Kuantan akan menjadi pusat perhatian selama perhelatan berlangsung.
Jika persoalan sampah dibiarkan, bukan tidak mungkin kesan yang muncul justru berbanding terbalik dengan citra Pacu Jalur yang selama ini digaungkan sebagai kebanggaan budaya daerah.
Pacu Jalur adalah warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, sosial dan ekonomi bagi masyarakat Kuansing.
Karena itu, keberhasilan penyelenggaraan tidak semestinya hanya diukur dari lancarnya perlombaan di arena pacuan.
Kesuksesan event juga harus dilihat dari kemampuan pemerintah menyediakan lingkungan pendukung yang layak bagi masyarakat dan wisatawan.
Jalan yang layak, kota yang bersih, transportasi yang tertib, fasilitas publik yang memadai serta pelayanan yang cepat merupakan satu kesatuan.
Masyarakat tidak meminta sesuatu yang berlebihan.
Yang dipersoalkan justru hal-hal mendasar yang semestinya menjadi bagian dari standar minimal sebuah daerah ketika menggelar agenda berskala besar.
Terlebih ketika Pacu Jalur telah dipromosikan sebagai salah satu ikon pariwisata unggulan Kuansing.
Persoalan jalan dan sampah semestinya menjadi alarm bagi Pemerintah Kabupaten Kuansing untuk segera melakukan langkah konkret.
Waktu menjelang pelaksanaan memang semakin sempit. Namun masih tersedia ruang untuk melakukan pembenahan terhadap titik-titik yang dianggap paling krusial.
Jalan rusak dapat dipetakan berdasarkan tingkat urgensinya. Titik yang berada di jalur utama pengunjung dapat diprioritaskan untuk mendapatkan penanganan.
Demikian pula persoalan sampah. Pemerintah perlu memastikan armada pengangkut, personel kebersihan, tempat penampungan sementara serta jadwal pengangkutan bekerja secara maksimal selama rangkaian kegiatan.
Jangan sampai setelah ribuan orang meninggalkan Teluk Kuantan, persoalan sampah justru menjadi warisan yang tersisa.
Masyarakat juga berharap koordinasi antarorganisasi perangkat daerah diperkuat. Dinas yang menangani infrastruktur, lingkungan hidup, perhubungan, pariwisata, kecamatan hingga pemerintah desa harus bekerja dalam satu skema persiapan yang terukur.
Sebab Pacu Jalur bukan hanya milik satu instansi.
Ia adalah wajah Kuantan Singingi.
Dan wajah itulah yang akan dilihat oleh masyarakat dari berbagai daerah ketika mereka datang ke Teluk Kuantan.
Pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan terlalu banyak seremoni.
Yang ditunggu adalah gerak nyata.
Menjelang Pacu Jalur Event Nasional 2026, pemerintah daerah dituntut menunjukkan bahwa predikat event besar benar-benar diikuti dengan kesiapan daerah sebagai tuan rumah.
Jalan yang rusak harus ditangani. Sampah harus diangkut. Titik-titik rawan harus dipetakan. Fasilitas publik harus dipastikan berfungsi.
Sebab ketika tepian Sungai Kuantan nanti dipenuhi ribuan pasang mata, yang dipertontonkan bukan hanya adu cepat jalur di atas air.
Seluruh Kabupaten Kuantan Singingi ikut dipertontonkan.
Jika infrastrukturnya tertata dan kotanya bersih, Pacu Jalur akan semakin memperkuat citra Kuansing sebagai destinasi budaya.
Namun jika persoalan mendasar justru dibiarkan terlihat di depan mata pengunjung, maka kemegahan pesta di tepian sungai berisiko berhadapan dengan wajah lain daerah: jalan berlubang dan sampah yang belum tertangani.
Menjelang hari H, publik kini menunggu satu hal sederhana: apakah pemerintah daerah akan membiarkan persoalan itu menjadi pemandangan bagi tamu, atau bergerak cepat sebelum semuanya terlambat? *(red)













