KAUR, BENGKULU (GemaNegeri.com) — Keselamatan puluhan siswa SDN 72 Kaur, Desa Air Palawan, Kecamatan Nasal, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, kini menjadi perhatian serius. Setiap hari, anak-anak sekolah harus melewati sebuah jembatan yang kondisinya rusak untuk berangkat maupun pulang sekolah. Sabtu (12/9/2026).

Jembatan yang menjadi salah satu akses penting bagi warga dan anak-anak tersebut dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian papan lantai. Kondisi ini membuat para siswa harus ekstra berhati-hati ketika melintas, bahkan dalam sejumlah kondisi mereka terpaksa berhenti terlebih dahulu untuk membenahi papan agar jalur dapat dilewati.
Situasi tersebut menggambarkan persoalan yang lebih besar: akses pendidikan yang seharusnya aman justru harus ditempuh anak-anak melalui jalur yang berpotensi membahayakan keselamatan mereka.
“Beginilah anak-anak kami SDN 72 Kaur waktu berangkat dan pulang sekolah. Mau lewat jembatan harus berhati-hati dan berhenti dulu sebentar untuk memperbaiki papan jembatan supaya bisa dilewati,” ungkap Marlaini, salah seorang guru SDN 72 Kaur, Minggu (12/9/2026).
Menurut informasi yang disampaikan, kondisi jembatan semakin mengkhawatirkan karena kerusakan papan dapat menyulitkan pengguna jalan ketika melintas. Persoalan menjadi lebih serius apabila hujan turun, karena permukaan jembatan berpotensi menjadi licin dan kondisi papan yang sudah rusak dapat meningkatkan risiko kecelakaan.
Anak Sekolah Jangan Dipaksa Bertaruh dengan Keselamatan
Jembatan bukan sekadar infrastruktur penghubung. Bagi masyarakat Desa Air Palawan, jembatan tersebut merupakan bagian penting dari mobilitas sehari-hari.
Bagi anak-anak SDN 72 Kaur, jembatan itu menjadi jalur yang harus mereka lewati secara rutin. Setiap pagi ketika berangkat sekolah dan setiap siang atau sore ketika pulang, mereka berhadapan dengan kondisi yang sama.
Anak-anak bahkan harus berhenti dan memperbaiki posisi papan sebelum melanjutkan perjalanan.
Kondisi seperti ini semestinya tidak boleh dianggap sebagai persoalan kecil.
Sebab, ketika fasilitas publik mengalami kerusakan dan digunakan setiap hari oleh anak sekolah, pertaruhannya bukan lagi sekadar kenyamanan. Pertaruhannya adalah keselamatan.
Tidak seharusnya anak-anak sekolah menjadi pihak yang harus beradaptasi dengan buruknya infrastruktur.
Mereka memiliki hak untuk mendapatkan akses pendidikan yang aman, termasuk perjalanan menuju dan dari sekolah.
Menunggu Korban Jatuh Baru Bertindak?
Kekhawatiran masyarakat juga berangkat dari pertanyaan sederhana: haruskah menunggu ada anak yang jatuh atau mengalami kecelakaan terlebih dahulu sebelum perbaikan dilakukan?
Pertanyaan tersebut patut menjadi perhatian pemerintah daerah maupun instansi terkait.
Kerusakan yang terlihat secara kasatmata semestinya dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk melakukan pengecekan lapangan. Apalagi jika jembatan tersebut memang merupakan akses penting bagi masyarakat dan siswa sekolah.
Pemerintah tidak semestinya hanya hadir setelah persoalan berubah menjadi kecelakaan.
Prinsip pemerintahan yang hadir untuk masyarakat justru harus terlihat dari kemampuan melakukan pencegahan sebelum terjadi korban.
Warga Minta Pemerintah Turun Langsung
Masyarakat berharap Pemerintah Provinsi Bengkulu maupun Pemerintah Kabupaten Kaur segera merespons kondisi tersebut.
Warga meminta Gubernur Bengkulu Helmi Hasan, Bupati Kaur Gusril Pauzi, serta instansi teknis terkait untuk turun langsung melihat kondisi jembatan.
Harapan serupa ditujukan kepada Dinas PUPR Kabupaten Kaur, Pemerintah Kecamatan Nasal dan Pemerintah Desa Air Palawan agar segera melakukan koordinasi serta mencari solusi terhadap kondisi jembatan tersebut.
Warga juga meminta perhatian dari unsur terkait lainnya, termasuk Polres Kaur dan Kodim 0408 Bengkulu Selatan/Kaur, khususnya dalam konteks keselamatan masyarakat apabila kondisi jembatan dinilai membahayakan.
Yang paling penting, masyarakat berharap persoalan ini tidak berhenti pada pendataan atau rapat koordinasi.
Jembatan tersebut membutuhkan tindakan nyata.
Minimal, kerusakan yang membahayakan harus segera ditangani agar anak-anak tidak lagi dipaksa mempertaruhkan keselamatan hanya untuk pergi menuntut ilmu.
Infrastruktur Pendidikan Harus Menjamin Keselamatan
Persoalan jembatan rusak di Desa Air Palawan juga seharusnya menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak cukup hanya berbicara mengenai gedung sekolah.
Sekolah yang layak harus ditopang oleh akses yang layak pula.
Anak-anak tidak boleh memiliki ruang belajar yang baik tetapi harus melewati jalur berbahaya untuk sampai ke sana.
Pemerintah daerah perlu memastikan setiap fasilitas publik yang menjadi akses masyarakat berada dalam kondisi aman, terutama fasilitas yang digunakan oleh anak-anak sekolah.
Kini, perhatian publik tertuju kepada pemerintah: seberapa cepat kondisi jembatan tersebut akan ditangani?
Sebab setiap pagi dan setiap kali pulang sekolah, puluhan siswa SDN 72 Kaur masih harus melewati jembatan yang sama.

Dan setiap kali mereka melangkah di atas papan yang rusak itu, selalu ada risiko yang tidak seharusnya mereka tanggung.
Anak-anak pergi ke sekolah untuk mengejar masa depan. Jangan biarkan perjalanan menuju sekolah justru mempertaruhkan keselamatan mereka.*(kif)













