JAKARTA (GemaNegeri.com) — Ada keberanian yang lahir bukan dari perintah panjang, melainkan dari kesadaran bahwa pada saat tertentu seseorang harus berdiri dan mengambil sikap. Sabtu (22/8/2026).
Itulah yang dilakukan dua prajurit TNI asal Kodam Iskandar Muda, Sertu Irfan Farhan dari Yonif 112/DJ dan Pratu Donni Pinto Harahap dari Yonarmed 17/RC. Setelah aksi mereka di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada 15 Agustus 2026, keduanya kini menerima penghargaan negara atas keberanian menjaga kehormatan Merah Putih.
Kamis (20/8/2026), Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menganugerahkan Kenaikan Pangkat Luar Biasa Operasi Militer Selain Perang (KPLB OMSP) kepada keduanya di Aula Gatot Soebroto, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.
Sebelum memperoleh penghargaan tersebut, Irfan berpangkat Serda dan Donni berpangkat Prada. Keduanya dinaikkan satu tingkat menjadi Sertu dan Pratu.
Penghargaan itu diberikan setelah keduanya dinilai menunjukkan keberanian, dedikasi, dan jiwa patriotisme ketika mengambil tindakan dalam situasi yang sempat memanas di kawasan Masjid Raya Baiturrahman.
Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Dalam situasi yang berkembang di halaman masjid, bendera Bulan Bintang dikibarkan pada salah satu tiang. Dua prajurit tersebut kemudian mengambil tindakan dengan menurunkannya dan memastikan Bendera Merah Putih kembali berkibar.
Bagi institusi TNI, tindakan itu tidak sekadar persoalan mengganti sebuah bendera.
Ada simbol negara yang harus dijaga. Ada tanggung jawab kebangsaan yang harus ditegakkan. Dan ada keberanian untuk bertindak ketika keadaan menuntut seseorang tidak hanya menjadi penonton.
Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Muhammad Nas sebelumnya menyampaikan bahwa KPLB merupakan bentuk apresiasi pimpinan terhadap prajurit yang menunjukkan prestasi dan keberanian dalam menjalankan tugas.
Diterima Seskab Teddy
Sehari setelah penghargaan dari Panglima TNI, Jumat dini hari, 21 Agustus 2026, kedua prajurit tersebut kembali mendapat perhatian di tingkat pemerintahan.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menerima keduanya dan menyampaikan apresiasi atas keberanian serta inisiatif yang telah mereka tunjukkan.
Dalam pertemuan tersebut, Teddy menilai tindakan keduanya merupakan wujud keberanian prajurit sekaligus bentuk tanggung jawab sebagai warga negara dan abdi negara.
Pertemuan itu menjadi penanda bahwa keberanian dua prajurit tersebut tidak berhenti di halaman Masjid Raya Baiturrahman.
Pesannya bergerak lebih jauh: bahwa kecintaan kepada Indonesia tidak selalu hadir dalam peristiwa besar yang disaksikan jutaan mata. Kadang ia muncul dalam keputusan sederhana—berdiri ketika orang lain memilih diam, membantu ketika keadaan membutuhkan, dan menjaga sesuatu yang diyakini menjadi bagian dari kehormatan bersama.
Merah Putih dan Makna Pengabdian
Penghargaan berupa kenaikan pangkat tentu membawa konsekuensi baru bagi kedua prajurit. Pangkat bukan sekadar tanda di pundak. Ia adalah tambahan tanggung jawab.
Irfan dan Donni kini membawa pengalaman yang mungkin akan terus melekat sepanjang perjalanan pengabdian mereka.
Di balik seragam dan pangkat, mereka adalah dua anak bangsa yang pada sebuah pagi di Banda Aceh berhadapan dengan situasi yang tidak sederhana.
Mereka memilih bertindak.
Pilihan itu kemudian mendapat penghargaan.
Namun, jauh di atas penghargaan formal tersebut, ada pesan yang lebih penting: bahwa nasionalisme tidak boleh berhenti sebagai kata-kata yang diucapkan dalam upacara.
Nasionalisme harus terlihat dalam keberanian menjaga kepentingan bersama.
Harus terasa dalam kepedulian terhadap sesama.
Dan harus hidup dalam tindakan ketika negara, masyarakat, dan nilai kebangsaan membutuhkan orang-orang yang bersedia berdiri di garis depan.
Kisah Sertu Irfan Farhan dan Pratu Donni Pinto Harahap akhirnya bukan hanya tentang dua prajurit yang naik pangkat.
Ini adalah cerita tentang keberanian.
Tentang tanggung jawab.
Tentang Merah Putih yang bukan sekadar kain yang berkibar di tiang, melainkan simbol dari sebuah bangsa yang dibangun dengan pengorbanan dan harus dirawat dengan tindakan.
Dari halaman Masjid Raya Baiturrahman, keberanian dua prajurit itu kini menjadi pengingat bagi siapa pun: mencintai Indonesia tidak cukup hanya dengan mengucapkannya. Pada waktunya, kecintaan itu harus dibuktikan dengan keberanian untuk menjaga, membantu, dan mengabdi.*(kif)













