TELUK KUANTAN (GemaNegeri.com) — Tepian Narosa kembali bergemuruh. Memasuki hari kelima Pacu Jalur Event Tradisional di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, Ahad (23/8/2026), duel sengit tersaji pada putaran kedua hilir pertama.
Jalur Alam Cahayo Tuah Nagori dari Desa Sikakak, Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuantan Singingi, berhasil menumbangkan Rajo Bujang dari Desa Padang Tanggung, Kecamatan Pangean.
Alam Cahayo Tuah Nagori mengambil posisi di sebelah kanan, sementara Rajo Bujang berada di sebelah kiri. Sejak aba-aba perlombaan diberikan, kedua jalur langsung berpacu mengerahkan seluruh tenaga.
Namun, laga ini bukan sekadar pertarungan untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Bukan pula semata-mata adu kecepatan atau tentang jalur mana yang lebih dahulu menusuk papan tenol pancang finis.
Ada rasa penasaran yang sejak awal menggelayuti ribuan penonton di sepanjang Tepian Narosa.
Siapa yang akan unggul?
Pertanyaan itu menjadi semakin menarik karena Rajo Bujang datang dengan reputasi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebelumnya, jalur asal Pangean tersebut berhasil menyingkirkan Keramat Jubah Merah, salah satu jalur yang memiliki nama besar dalam persaingan pacu jalur Kuansing.
Kemenangan atas Keramat Jubah Merah membuat Rajo Bujang semakin diperhitungkan.
Namun, di arena pacu jalur, reputasi dan kemenangan sebelumnya bukanlah tiket otomatis menuju kemenangan berikutnya.
Sungai kembali menjadi tempat pembuktian.
Rajo Bujang turun dengan kekuatan atlet yang disebut-sebut memiliki pengalaman dalam olahraga dayung. Kehadiran atlet terlatih dari luar Kuantan Singingi membuat pertarungan tersebut semakin menyedot perhatian.
Di sisi lain, Alam Cahayo Tuah Nagori membawa pertaruhan yang berbeda.
Bagi masyarakat dan pendukungnya, laga tersebut seakan menjadi panggung untuk membuktikan bahwa kemampuan atlet lokal tidak boleh dipandang sebelah mata.
Bahwa atlet lokal Kuansing juga memiliki nilai, kemampuan, ketangguhan dan marwah.
Ribuan mata pun tertuju ke permukaan Sungai Batang Kuantan.
Sorak-sorai suporter menggema. Ketegangan terasa sejak kedua jalur mulai melaju meninggalkan garis awal. Jarak antarkeduanya menjadi perhatian utama penonton yang memadati tepian.
Dan teka-teki itu akhirnya terjawab.
Alam Cahayo Tuah Nagori tampil lebih cepat.
Jalur dari Sikakak, Cerenti, tersebut berhasil lebih dahulu menembus papan tenol pancang finis dan memastikan kemenangan atas Rajo Bujang.
Rajo Bujang akhirnya harus menelan pil pahit kekalahan pada hari kelima, putaran kedua Pacu Jalur Event Tradisional 2026 di Tepian Narosa.
Kemenangan Alam Cahayo Tuah Nagori sekaligus memberikan pesan bahwa dalam pacu jalur, nama besar, reputasi, pengalaman maupun materi atlet bukanlah jaminan mutlak untuk keluar sebagai pemenang.
Sungai Batang Kuantan tetap menjadi hakim terakhir.
Di atas sungai itulah kemampuan benar-benar diuji. Di sana pula strategi, kekompakan anak pacu, kekuatan dayung dan ketepatan haluan bertemu dalam hitungan waktu yang sangat singkat.
Bagi Alam Cahayo Tuah Nagori, kemenangan tersebut bukan hanya soal lolos dari satu pertandingan.
Kemenangan itu menjadi jawaban atas rasa penasaran publik yang sejak awal mempertanyakan sejauh mana kekuatan atlet lokal ketika harus berhadapan dengan jalur yang diperkuat atlet berpengalaman.
Dan sore itu, jawabannya telah diberikan di atas Sungai Batang Kuantan.
Alam Cahayo Tuah Nagori melaju. Rajo Bujang tumbang.
Tepian Narosa kembali menjadi saksi bahwa dalam pacu jalur, siapa pun boleh datang dengan reputasi dan kekuatan terbaik.
Tetapi ketika jalur sudah berada di tengah sungai, hanya satu hal yang berbicara paling keras:
kecepatan menuju pancang finis. *(wan)













