KUANTAN SINGINGI (GemaNegeri.com) — Fakultas Pertanian Universitas Islam Kuantan Singingi (UNIKS) mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan institusi teknis sebagai bagian dari upaya menjawab tantangan pembangunan sektor pertanian dan peternakan di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Kuliah Umum Fakultas Pertanian UNIKS yang menghadirkan perspektif akademik sekaligus pengalaman praktis dari pemerintah daerah dan institusi teknis peternakan.
Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Multiviza Muslim, S.Pt., M.Pt. dari BPTU-HPT Padang Mengatas serta Deflides Gusni, S.P., M.Si., Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kuantan Singingi.
Di hadapan mahasiswa, Wakil Rektor II Bidang Akademik dan Dakwah Islamiyah UNIKS, Bustanur, S.Ag., M.Us., mengingatkan bahwa pertanian bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan bagian fundamental dari kehidupan manusia.
Ia menyampaikan sebuah analogi yang menggambarkan betapa dekatnya peran petani dengan kehidupan sehari-hari.
“Dalam kehidupan, kita mungkin hanya sekali bertemu dengan polisi, dokter, atau profesi lainnya. Namun, kita bisa bertemu petani hingga tiga kali sehari—ketika sarapan, makan siang, dan makan malam. Karena itu, petani memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan kita.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi mahasiswa Fakultas Pertanian bahwa kehidupan manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari pertanian dan peternakan.
Di tengah perubahan iklim, tekanan ekonomi, perkembangan teknologi, dan tuntutan ketahanan pangan, sektor tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu membaca perubahan dan mencari solusi berdasarkan kondisi lapangan.
Dekan Fakultas Pertanian UNIKS, Dr. Ir. Pebra Heriansyah, S.P., M.P., menegaskan bahwa pembangunan pertanian ke depan membutuhkan pendekatan yang lebih terintegrasi.
Menurutnya, tanaman pangan, hortikultura, peternakan, lingkungan, dan aspek ekonomi memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan.
“Pertanian tidak bisa lagi dilihat secara parsial. Tanaman, ternak, lingkungan, dan aspek ekonomi harus dipandang sebagai satu kesatuan. Inilah yang perlu dipahami mahasiswa agar mampu melihat peluang pengembangan pertanian secara lebih komprehensif,” jelasnya.
Pendekatan integratif tersebut, kata dia, membuka ruang bagi pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih optimal. Limbah dari satu subsektor, misalnya, dapat dikembangkan menjadi input bagi subsektor lainnya sehingga terbentuk siklus produksi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Dengan cara pandang demikian, mahasiswa tidak hanya diarahkan menjadi tenaga kerja di sektor pertanian, tetapi juga dipersiapkan untuk menjadi penggerak inovasi dan pengembangan agribisnis berbasis potensi daerah.
Sementara itu, Deflides Gusni memberikan gambaran mengenai kondisi, potensi, sekaligus tantangan pembangunan sektor pertanian di Kabupaten Kuansing.
Mahasiswa diajak melihat sektor pertanian bukan hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari perspektif pengembangan komoditas, ketahanan pangan, dan agribisnis daerah.
Perspektif pemerintah daerah menjadi penting karena berbagai inovasi akademik pada akhirnya perlu menemukan relevansinya dengan kebutuhan masyarakat.
Kampus memiliki pengetahuan dan sumber daya intelektual. Pemerintah memiliki kewenangan, program, serta data pembangunan. Sementara masyarakat merupakan aktor utama yang menjalankan aktivitas produksi di lapangan.
Ketiganya membutuhkan ruang perjumpaan agar gagasan akademik tidak berhenti di ruang kelas atau laboratorium, tetapi dapat diterjemahkan menjadi solusi konkret.
Dari sisi peternakan, Multiviza Muslim dari BPTU-HPT Padang Mengatas memberikan perspektif mengenai pengelolaan sumber daya untuk meningkatkan produktivitas ternak.
Manajemen peternakan, mulai dari penyediaan pakan, pemeliharaan ternak, penerapan teknologi hingga optimalisasi sumber daya lokal, menjadi bagian penting dalam membangun usaha peternakan yang produktif.
Konsep pertanian terintegrasi menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk dikembangkan.
Integrasi tanaman dan ternak memungkinkan terjadinya hubungan timbal balik dalam sistem produksi. Produk samping atau limbah dari kegiatan pertanian dapat dimanfaatkan untuk mendukung peternakan, sementara hasil samping peternakan dapat kembali dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian.
Selain meningkatkan efisiensi, pola tersebut berpotensi menekan limbah sekaligus menciptakan sistem produksi yang lebih ramah lingkungan.
Ketua Pelaksana Kuliah Umum, Bayu Nuari Ramadhan, S.Pt., M.Si., mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk mempertemukan pengetahuan yang diperoleh mahasiswa di ruang perkuliahan dengan realitas pembangunan di lapangan.
“Mahasiswa perlu mendapatkan perspektif langsung dari pemerintah dan institusi teknis. Dengan begitu, mereka tidak hanya memahami konsep secara akademik, tetapi juga mengetahui bagaimana tantangan dan peluang sektor pertanian dan peternakan di lapangan,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi pintu masuk bagi terbentuknya kerja sama yang lebih konkret antara Fakultas Pertanian UNIKS dengan pemerintah daerah maupun lembaga teknis.
Kerja sama itu dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, mulai dari penelitian bersama, pengabdian kepada masyarakat, program magang mahasiswa, pertukaran pengetahuan hingga pengembangan inovasi pertanian dan peternakan.
“Harapannya, kegiatan seperti ini tidak berhenti pada kuliah umum saja, tetapi dapat dilanjutkan dalam bentuk penelitian bersama, pengabdian kepada masyarakat, magang mahasiswa, pertukaran pengetahuan, maupun bentuk kolaborasi lainnya,” tambahnya.
Pada akhirnya, tantangan pertanian Kuansing tidak hanya membutuhkan tambahan produksi, tetapi juga membutuhkan pengetahuan, inovasi, teknologi, tata kelola, dan sumber daya manusia yang mampu membaca perubahan.
Melalui penguatan hubungan antara kampus, pemerintah, dunia teknis, dan masyarakat, Fakultas Pertanian UNIKS berupaya menempatkan perguruan tinggi bukan sekadar sebagai ruang akademik, melainkan sebagai bagian dari ekosistem pembangunan daerah.
Dari ruang kuliah, gagasan diharapkan bergerak menuju lahan pertanian, kandang ternak, sentra produksi, dan masyarakat. Sebab masa depan pertanian tidak hanya ditentukan oleh luas lahan dan jumlah produksi, tetapi juga oleh kemampuan manusia mengelola pengetahuan menjadi inovasi yang memberi nilai tambah bagi daerah.*(anje)













