KUANTAN SINGINGI (GemaNegeri.com) — Nama Fuja Ibrahim mulai mencuat dalam dinamika bursa kepemimpinan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau. Ia diisukan berpeluang dipercaya menakhodai Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PSI Kuansing.
Kabar tersebut bukan sekadar rumor politik. Fuja Ibrahim membenarkan bahwa dirinya telah menjalin komunikasi dengan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PSI Riau terkait peluang untuk memimpin partai berlambang gajah tersebut di Negeri Jalur.
“Iya, sudah ada komunikasi dengan DPW PSI ke arah itu, terkait kepercayaan untuk menjadi Ketua DPD PSI Kuansing. Namun, tentu kita masih menunggu proses dan keputusan resmi dari partai,” ungkap Fuja Ibrahim saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (3/11/2026).
Fuja mengaku siap mengemban amanah apabila kepercayaan tersebut benar-benar diberikan. Baginya, membangun partai politik bukan semata-mata soal jabatan dan kekuasaan, melainkan tentang kemampuan menghadirkan ruang partisipasi bagi masyarakat.
“Kalau memang diberikan amanah, saya siap menjalankan tanggung jawab tersebut. Kita ingin PSI hadir sebagai wadah bagi masyarakat, khususnya anak-anak muda yang memiliki gagasan, kreativitas, dan semangat untuk ikut membangun daerah,” ujarnya.
Salah satu gagasan yang ingin didorong Fuja adalah memperluas keterlibatan generasi muda dalam ruang politik dan pembangunan daerah.
Menurutnya, generasi milenial dan Gen Z tidak boleh terus-menerus ditempatkan sebagai objek dalam kontestasi politik. Mereka harus diberi kesempatan menjadi subjek yang ikut menentukan arah perubahan.
“Gen Z harus punya ruang untuk berkembang. Kita ingin anak-anak muda Kuansing tidak hanya menjadi objek politik, tetapi menjadi bagian penting dalam proses perubahan. Mereka punya energi, kreativitas, dan pemikiran yang harus diberikan ruang,” tuturnya.
Fuja berpandangan, kekuatan partai politik tidak cukup dibangun melalui popularitas figur ataupun keberadaan struktur kepengurusan. Lebih dari itu, dibutuhkan konsolidasi organisasi, soliditas kader, serta kemampuan membangun hubungan yang nyata dengan masyarakat.
Karena itu, apabila dipercaya memimpin DPD PSI Kuansing, ia berencana merangkul berbagai elemen, mulai dari politikus senior, tokoh masyarakat, kalangan milenial hingga generasi Z.
“Kita tidak ingin membangun partai hanya untuk kepentingan politik sesaat. PSI harus menjadi rumah bersama, tempat masyarakat menyampaikan aspirasi dan anak-anak muda belajar berorganisasi serta berkontribusi bagi daerah,” tegasnya.
Secara nasional, PSI dikenal membawa narasi politik anak muda dan pembaruan. Di bawah kepemimpinan Kaesang Pangarep, partai ini berupaya memperluas basis dukungan, termasuk dari kalangan pemilih muda.
Namun, membangun kekuatan politik di daerah tentu bukan pekerjaan sederhana. Popularitas nasional tidak otomatis menjelma menjadi dukungan elektoral di tingkat lokal.
PSI Kuansing membutuhkan kerja organisasi yang terukur, kaderisasi berkelanjutan, serta kemampuan membaca persoalan dan aspirasi masyarakat.
Jika komunikasi yang telah terjalin dengan DPW PSI berujung pada penetapan dirinya sebagai Ketua DPD PSI Kuansing, Fuja Ibrahim akan menghadapi tantangan untuk menerjemahkan gagasan regenerasi politik menjadi kekuatan organisasi yang konkret.
Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan partai yang menawarkan wajah-wajah baru, tetapi juga organisasi politik yang mampu membuktikan keberpihakan melalui kerja nyata.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keputusan resmi mengenai penetapan Fuja Ibrahim sebagai Ketua DPD PSI Kuansing. Proses dan keputusan internal partai masih menjadi penentu akhir arah kepemimpinan PSI di Kabupaten Kuantan Singingi.*(anje)













