REAKSI Tanam Pohon Kayu Jalur di Kuansing, Generasi Muda Bergerak Menjaga Alam dan Budaya

  • Bagikan

TELUK KUANTAN (GemaNegeri.com) – Kepedulian terhadap lingkungan dan kelestarian budaya lokal ditunjukkan komunitas REAKSI (Remaja Kuansing Beraksi) melalui partisipasi dalam kegiatan Bakti Penanaman Pohon Kayu Jalur Kuantan Singingi Tahun 2026 di Hutan Kota Pulau Bungin, Koto Taluk, Rabu (14/10/2026).

Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-27 Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) sekaligus Milad ke-1 Dubalang Batang Kuantan Singingi. Kegiatan ini digagas Panglima Dubalang Batang Kuantan Singingi, Datuk Toni Werdiansyah, S.Si., sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan menjaga keberlangsungan tradisi Pacu Jalur.

Kehadiran REAKSI menjadi gambaran keterlibatan generasi muda dalam gerakan pelestarian lingkungan. Dipimpin Ketua Umum Marvino April Yaldi, para pengurus komunitas tersebut turut menanam bibit pohon kayu jalur sebagai simbol komitmen menjaga warisan budaya Kuansing agar tetap hidup bagi generasi mendatang.

Mengenakan seragam hijau khas komunitas pecinta lingkungan, Marvino bersama jajaran pengurus tampil kompak dalam kegiatan tersebut. Mereka juga berfoto bersama Duta Pelajar Kuansing di depan banner utama kegiatan setelah mengikuti penanaman bibit pohon.

Ketua Umum REAKSI, Marvino April Yaldi, menegaskan bahwa pelestarian lingkungan tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga keberlangsungan budaya masyarakat Kuansing, khususnya tradisi Pacu Jalur yang telah menjadi identitas daerah.

“Mari bersama-sama menjaga kelestarian alam Kuantan Singingi. Karena kelestarian alam juga merupakan urat nadi dan berkembangnya budaya Pacu Jalur,” ujar Marvino.

Pesan tersebut menegaskan bahwa keberlanjutan tradisi tidak hanya bergantung pada pelaksanaan perlombaan atau kemeriahan festival. Lebih dari itu, tradisi membutuhkan lingkungan yang terjaga, sumber daya alam yang lestari, serta kesadaran bersama untuk mewariskan kekayaan alam dan budaya kepada generasi berikutnya.

Pohon kayu jalur memiliki arti penting dalam tradisi masyarakat Kuansing. Kayu yang digunakan untuk membuat jalur menjadi bagian dari proses panjang yang menghubungkan alam, pengetahuan tradisional, keterampilan para perajin, dan semangat kebersamaan masyarakat.

Karena itu, penanaman pohon kayu jalur dapat dimaknai sebagai investasi ekologis dan kultural. Upaya tersebut menjadi pengingat bahwa keberlangsungan Pacu Jalur juga membutuhkan perhatian terhadap kelestarian hutan dan ketersediaan bahan baku yang sesuai dengan kebutuhan tradisi.

Dalam kegiatan tersebut, REAKSI hadir bersama sejumlah pengurus, yakni Syamsi Ramadhan Sudibyo, Nayla Syifa Khairani, Geshya Al Munawarah, Mutia Dela Vania, Fakhirah Ulfah, dan Riskya Sakinah.

Keterlibatan mereka memperlihatkan bahwa generasi muda dapat mengambil peran konkret dalam menjawab tantangan pelestarian lingkungan. Kepedulian tidak cukup disampaikan melalui slogan atau kampanye di media sosial, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Partisipasi REAKSI juga menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa menjaga alam merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, komunitas pemuda, masyarakat adat, pelaku budaya, dan seluruh elemen masyarakat memiliki peran dalam memastikan pembangunan daerah tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Di tengah tantangan menjaga kelestarian alam, keterlibatan komunitas seperti REAKSI diharapkan dapat mendorong semakin banyak anak muda Kuansing untuk mengambil bagian dalam gerakan penghijauan dan pelestarian budaya lokal.

Kegiatan Bakti Penanaman Pohon Kayu Jalur Kuantan Singingi Tahun 2026 mengusung tema, “Dengan Bakti Penanaman Pohon Kayu Jalur Kita Pertahankan Tradisi dan Budaya Pacu Jalur Kuantan Singingi Abadi Sepanjang Masa.”

Kegiatan ini juga membawa motto, “Jaga Sungai, Jaga Hutan, Jaga Lingkungan.”

Tema tersebut menempatkan pelestarian lingkungan sebagai bagian penting dari upaya mempertahankan identitas budaya Kuansing. Sungai, hutan, dan lingkungan bukan sekadar ruang hidup masyarakat, melainkan juga bagian dari lanskap alam yang membentuk perjalanan tradisi Pacu Jalur.

Penanaman bibit pohon mungkin tidak langsung memberikan hasil dalam waktu singkat. Pohon membutuhkan waktu untuk tumbuh, berkembang, dan memberikan manfaat ekologis. Namun, dari proses itulah komitmen terhadap masa depan diuji: apakah kepedulian hari ini akan dirawat secara konsisten hingga menghasilkan manfaat bagi generasi berikutnya.

Bagi REAKSI dan generasi muda Kuansing, kegiatan tersebut menjadi langkah nyata untuk menyatukan kepedulian terhadap alam dengan kecintaan terhadap budaya daerah.

Sebab, mempertahankan Pacu Jalur bukan hanya tentang menjaga kemegahan perlombaan di Tepian Narosa. Lebih jauh, upaya itu juga berarti menjaga alam yang menopang tradisi, merawat pengetahuan leluhur, dan memastikan warisan budaya Kuantan Singingi tetap memiliki masa depan.*(anje)

Penulis: andrian jeneriEditor: redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *