KUANTAN SINGINGI (GemaNegeri.com) — Persoalan sampah di pusat Kota Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), kembali menjadi keluhan warga dan pelaku usaha. Tumpukan sampah yang dibiarkan berhari-hari bukan hanya mengganggu estetika kota, tetapi mulai menimbulkan persoalan kenyamanan, kesehatan lingkungan, hingga kekhawatiran terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Pantauan langsung tim media gemanegeri.com, Rabu (30/9/2026), menemukan sejumlah titik penumpukan sampah di kawasan yang semestinya menjadi wajah perkotaan. Salah satunya berada di sekitar jalan dekat Toko Roti Rote dan deretan usaha kuliner nasi goreng di bawah SMKN 1 Teluk Kuantan.
Kantong-kantong plastik berisi limbah rumah tangga maupun sisa aktivitas usaha terlihat menumpuk di sekitar tempat penampungan sementara. Sebagian bahkan meluber ke sisi badan jalan.
Aroma menyengat yang muncul dari tumpukan tersebut semakin mempertegas persoalan. Di tengah aktivitas perdagangan dan kuliner, sampah yang tidak segera diangkut berpotensi mengganggu kenyamanan konsumen sekaligus menciptakan kesan buruk terhadap wajah pusat kota.
Seorang pekerja toko roti di kawasan tersebut mengaku pengangkutan sampah sudah cukup lama tidak dilakukan.
“Sudah hampir dua minggu sampahnya tak diambil, Bang. Kalau begini terus, kami khawatir mengganggu omzet penjualan karena baunya sudah sangat menyengat dan mengganggu pelanggan,” ujarnya kepada gemanegeri.com.
Yang menjadi sorotan, persoalan tersebut muncul ketika masyarakat tetap dibebani kewajiban membayar iuran kebersihan.
Menurut pekerja tersebut, pungutan kebersihan selama ini tetap dilakukan secara rutin.
“Uang sampah tiap bulan tetap diambil, Bang. Kebetulan untuk bulan September ini saja yang belum ditagih,” katanya.
Persoalan itu kemudian memunculkan pertanyaan sederhana namun penting: jika pungutan kebersihan berjalan, mengapa pelayanan pengangkutan sampah justru tersendat?
Pertanyaan tersebut menjadi relevan karena sampah bukan sekadar persoalan estetika. Pengelolaan sampah merupakan bagian dari pelayanan publik yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Bukan Hanya Satu Titik
Keluhan mengenai buruknya pengangkutan sampah ternyata tidak berhenti di kawasan pusat perdagangan.
Sehari sebelumnya, redaksi gemanegeri.com juga menerima laporan warga Perumahan Graha mengenai sampah permukiman yang disebut tidak diangkut selama berhari-hari.
Jika keluhan tersebut terjadi di sejumlah lokasi berbeda, persoalannya patut dilihat bukan semata sebagai persoalan keterlambatan pada satu titik pengangkutan, melainkan sebagai sesuatu yang perlu dievaluasi dalam sistem pelayanan persampahan secara keseluruhan.
Mulai dari jadwal pengangkutan, jumlah armada, ketersediaan petugas, kapasitas tempat penampungan sementara hingga mekanisme pengawasan menjadi aspek yang layak dipertanyakan.
Sebab, membiarkan sampah menumpuk berhari-hari di tengah kawasan perdagangan sama artinya membiarkan persoalan lingkungan berkembang menjadi persoalan sosial dan ekonomi.
DLH: “Nanti Kita Cek”
Atas temuan dan keluhan tersebut, tim gemanegeri.com mencoba meminta penjelasan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kuantan Singingi.
Plt Kepala DLH Kuansing, Dodi Fitrawan, S.Sos, ketika dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp memberikan respons singkat.
“Nanti kita cek sama anggota,” jawab Dodi.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan di lapangan akan ditindaklanjuti. Namun, masyarakat tentu membutuhkan lebih dari sekadar pengecekan.
Mereka membutuhkan kepastian kapan sampah diangkut, bagaimana pola pelayanan diperbaiki, dan siapa yang bertanggung jawab ketika pelayanan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Terlebih, kawasan pusat Kota Teluk Kuantan bukan sekadar ruang publik biasa. Di sana terdapat aktivitas perdagangan, kuliner, pendidikan, dan mobilitas masyarakat setiap hari.
Jika kawasan strategis seperti itu dibiarkan menjadi titik penumpukan sampah, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kebersihan kota, tetapi juga wajah pelayanan pemerintah di mata masyarakat.
Pemerintah daerah juga dituntut memastikan bahwa pungutan yang berkaitan dengan pelayanan kebersihan memiliki korelasi yang jelas dengan pelayanan yang diterima masyarakat.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pengelolaan sampah bukan terletak pada seberapa sering pungutan dilakukan, melainkan pada seberapa konsisten sampah diangkut, lingkungan dijaga, dan masyarakat memperoleh pelayanan yang layak.
Warga dan pelaku usaha kini menunggu tindakan konkret DLH Kuansing. Jangan sampai sampah terus menggunung sementara persoalannya hanya berputar dari satu laporan ke laporan berikutnya.
Sampah boleh berada di tempat penampungan. Tetapi jangan sampai tanggung jawab ikut ditumpuk di sana.
*(GNN/Red)













