TOLITOLI, SULAWESI TENGAH (GemaNegeri.com) — Forum Pers Independent Indonesia (FPII) Koordinator Wilayah (Korwil) Kabupaten Tolitoli mulai membenahi konsolidasi internal organisasi. Pembenahan administrasi, penataan kepengurusan, hingga penguatan koordinasi antaranggota menjadi agenda penting untuk menghidupkan kembali aktivitas organisasi agar lebih solid dan terarah.

Komitmen tersebut mengemuka dalam rapat internal FPII Korwil Tolitoli yang digelar di salah satu kafe di Jalan Baru, Tolitoli, Sabtu (24/10/2026). Pertemuan itu juga menjadi momentum mempererat silaturahmi, memperkuat sinergi, serta membangun komunikasi yang lebih baik, baik di lingkungan internal maupun dengan instansi pemerintah.
Ketua FPII Korwil Tolitoli, Bahmid, S.Sos., menyampaikan apresiasi atas kunjungan Ketua FPII Setwil Sulawesi Tengah, Irwan Amir. Menurutnya, kehadiran pimpinan tingkat wilayah tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap penguatan organisasi di Kabupaten Tolitoli.
Bahmid menilai, kunjungan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperbaiki koordinasi, meningkatkan transparansi, dan menyamakan persepsi di antara pengurus.
Dalam rapat itu, ia menyampaikan empat agenda prioritas yang perlu segera ditindaklanjuti, yakni perpanjangan masa aktif kartu identitas anggota (ID Card), revisi kepengurusan Korwil Tolitoli, pengajuan perubahan Surat Keputusan (SK) kepengurusan, serta pembenahan administrasi dan manajemen organisasi.
Keempat agenda tersebut dinilai penting untuk memastikan organisasi memiliki kepengurusan yang tertata, administrasi yang tertib, serta arah kerja yang jelas.
Sementara itu, Ketua FPII Setwil Sulawesi Tengah, Irwan Amir, mengungkapkan bahwa kunjungannya ke Tolitoli telah diketahui Ketua Presidium FPII, Dra. Kasihati.
Irwan menyampaikan pesan Ketua Presidium agar seluruh jajaran FPII tetap menjaga kekompakan dan menjunjung tinggi etika dalam berorganisasi.
Menurutnya, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam dinamika organisasi. Namun, perbedaan tersebut semestinya menjadi bahan introspeksi dan evaluasi untuk memperbaiki pola komunikasi serta menentukan langkah yang lebih bijaksana ke depan.
Ia menegaskan, keberlangsungan organisasi tidak cukup ditopang oleh struktur kepengurusan di atas kertas. Organisasi membutuhkan komunikasi yang aktif, keterlibatan anggota, serta kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh elemen tanpa membangun sekat internal.
“Saya minta Ketua Korwil terus merangkul seluruh anggota tanpa terkecuali. Jangan ada lagi yang berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi,” tegas Irwan.
Ia juga berkomitmen menindaklanjuti berbagai aspirasi pengurus Korwil Tolitoli agar organisasi tidak kembali mengalami kondisi yang disebutnya sebagai mati suri akibat minimnya koordinasi dan aktivitas anggota.
Irwan mengakui, persoalan pasang surut aktivitas organisasi bukan hanya dialami FPII Korwil Tolitoli. Kondisi serupa, menurutnya, juga pernah terjadi di tingkat Setwil Sulawesi Tengah.
“Bukan hanya FPII Tolitoli yang kepengurusannya seakan timbul tenggelam. Hal ini juga pernah dialami oleh Pengurus Setwil Sulteng. Mulai hari ini, dengan beranjak dari Korwil Tolitoli, kami akan mengagendakan pertemuan-pertemuan serupa di semua jenjang kepengurusan, baik tingkat Setwil maupun Korwil yang ada di Sulawesi Tengah,” harapnya.
Pernyataan tersebut menandai dorongan agar konsolidasi tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi langkah berkelanjutan untuk memperkuat komunikasi dan memastikan organisasi berjalan secara aktif.
Irwan juga mendorong agar seluruh anggota dilibatkan dalam berbagai kegiatan organisasi, termasuk saat melakukan kunjungan dan membangun komunikasi dengan sejumlah pihak, khususnya pejabat serta pemangku kepentingan di daerah.
Pelibatan anggota, menurutnya, penting untuk menumbuhkan rasa memiliki sekaligus memperkuat kebersamaan dalam menjalankan program organisasi.
Pembenahan Organisasi Menjadi Pekerjaan Bersama
Rapat internal tersebut diharapkan menjadi titik awal pembenahan FPII Korwil Tolitoli, terutama dalam memperjelas struktur kepengurusan, menertibkan administrasi, meningkatkan partisipasi anggota, dan memperluas kemitraan dengan pemerintah serta masyarakat.
Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada tindak lanjut setelah rapat berakhir. Konsolidasi baru akan bermakna apabila menghasilkan agenda kerja yang terukur, pembagian tanggung jawab yang jelas, serta komunikasi yang berjalan secara konsisten.
Bagi FPII Tolitoli, penguatan organisasi bukan sekadar persoalan memperbarui SK atau memperpanjang masa aktif kartu anggota. Lebih dari itu, pembenahan membutuhkan komitmen bersama untuk menjaga etika, membangun kepercayaan, dan memastikan setiap anggota memiliki ruang untuk berkontribusi.
Dengan demikian, momentum konsolidasi di Jalan Baru tersebut diharapkan tidak hanya menjadi pertemuan untuk mempererat silaturahmi, tetapi juga menjadi langkah nyata menuju organisasi yang lebih solid, tertib, dan aktif menjalankan perannya.*(ras)













