TELUK KUANTAN (GemaNegeri.com) — Hari keempat Festival Pacu Jalur Iven Tradisional di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, Sabtu (22/8/2026), kembali menyuguhkan pertarungan yang bukan sekadar adu cepat. Di atas Batang Kuantan, nama besar, riwayat kemenangan, bahkan gemuruh jumlah pendukung, semuanya luruh menjadi satu pertanyaan: siapa yang paling kuat bertahan hingga pancang terakhir?
Salah satu laga yang menyedot perhatian penonton tersaji pada hilir ke-24. Dua jalur dari dua kabupaten berbeda dipertemukan dalam pertarungan yang sarat gengsi: Batu Lompatan Harimau Kompe dari Desa Kinali, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, menghadapi Untung Bertuah dari Desa Danau Baru, Kabupaten Indragiri Hulu.
Batu Lompatan Harimau Kompe mengambil posisi jalan sebelah kanan. Sementara Untung Bertuah berada di jalan sebelah kiri.
Sejak kedua jalur mengambil ancang-ancang, tepian Batang Kuantan seolah kehilangan batas antara daratan dan sungai. Sorak suporter bergulung dari tepian. Suara tambur, teriakan dukungan, dan pekik kemenangan yang belum terjadi bercampur menjadi satu denyut panjang yang mengguncang arena.
Laga ini menjadi salah satu pertarungan yang paling dinantikan pada hari keempat.
Untung Bertuah datang membawa nama Indragiri Hulu. Jalur ini bukan sekadar sebuah perahu panjang yang dipenuhi anak pacu. Ia membawa harga diri daerah, membawa harapan para pendukung, sekaligus membawa reputasi yang telah dibangun dari perlombaan-perlombaan sebelumnya.
Namun Batang Kuantan tidak mengenal reputasi.
Sungai tidak pernah bertanya siapa yang lebih banyak memiliki penggemar. Pancang tidak pernah peduli siapa yang datang dengan catatan kemenangan lebih panjang. Air hanya menjadi saksi ketika tenaga manusia, kekompakan, strategi, dan keberanian bertemu dalam satu garis pertarungan.
Di situlah pacu jalur menemukan hakikatnya.
Kemenangan tidak bisa diprediksi hanya dari prestasi sebelumnya.
Di atas sungai, seluruh catatan masa lalu harus kembali diuji.
Batu Lompatan Harimau Kompe memperlihatkan bahwa kekuatan sebuah jalur bukan semata-mata berada pada nama besarnya, tetapi pada kemampuan puluhan anak pacu menyatukan gerak menjadi satu irama.
Satu kayuhan yang terlambat dapat mengubah arah pertarungan. Satu tenaga yang melemah dapat menjadi celah bagi lawan. Sebaliknya, satu tekad yang bulat dapat membuat sebuah jalur melesat seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya.
Begitulah pertarungan di Batang Kuantan.
Tidak ada belas kasihan.
Tidak ada kompromi.
Tidak ada ruang bagi keraguan.
Ketika aba-aba diberikan, yang tersisa hanya tenaga, napas, irama, strategi dan jiwa tarung.
Batu Lompatan Harimau Kompe akhirnya mampu menunjukkan ketangguhan itu. Jalur asal Kinali tersebut berhasil menumbangkan Untung Bertuah dalam duel yang berlangsung sengit dan menguras tenaga.
Kekalahan itu menjadi akhir perjalanan Untung Bertuah pada hilir tersebut. Sebilah pedang tajam dari Indragiri Hulu akhirnya harus terbenam di derasnya pertarungan Batang Kuantan.
Namun kemenangan Batu Lompatan Harimau Kompe bukan sekadar angka di papan hasil.
Ia adalah kemenangan atas ketegangan. Kemenangan atas tekanan. Kemenangan atas pertarungan yang sejak awal tidak memberikan kepastian.
Dan seperti biasa, Batang Kuantan menyimpan jawaban akhirnya sendiri.
Setiap kayuhan membawa harapan. Setiap hentakan menggambar keberanian. Setiap detik menjadi pertaruhan. Hingga akhirnya, pancang keenam—papan tenol—menjadi pengadil terakhir yang memisahkan antara mereka yang pulang membawa kemenangan dan mereka yang harus menelan kekalahan.
Di sanalah semua cerita berhenti.
Nama besar berhenti.
Prediksi berhenti.
Sorak-sorai berhenti.
Yang tersisa hanyalah siapa yang lebih dahulu mencapai batas kemenangan.
Bagi Batu Lompatan Harimau Kompe, hari keempat Tepian Narosa menjadi sebuah halaman kemenangan yang akan dibawa pulang ke Kinali.
Bagi Untung Bertuah, Batang Kuantan kembali mengajarkan satu hukum tua pacu jalur: tak ada kemenangan yang diwariskan oleh nama, dan tak ada kekalahan yang ditentukan sebelum kayuhan terakhir.
Sebab di sungai ini, kemenangan bukan milik mereka yang paling banyak dipuji.
Kemenangan adalah milik mereka yang mampu menjaga satu irama, satu kekompakan, satu tekad, dan satu jiwa tarung hingga papan tenol menjadi saksi terakhir.*(wan)













