KUANTAN SINGINGI, RIAU (GemaNegeri.com) — Di tengah keterbatasan fasilitas, semangat anak-anak Desa Air Emas, Kecamatan Singingi, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, untuk mengejar mimpi menjadi pemain sepak bola justru terus menyala.

Setiap sore, lapangan Tunggul Kolim di Desa Air Emas berubah menjadi ruang belajar bagi anak-anak yang ingin mengenal lebih jauh olahraga sepak bola. Tidak ada lapangan dengan rumput terawat, fasilitas latihan lengkap, ataupun perlengkapan olahraga yang memadai.
Yang ada hanya lapangan sederhana, sebuah bola yang kondisinya mulai memprihatinkan, dan semangat anak-anak yang datang untuk berlatih.
Pelatihan sepak bola tersebut digagas secara mandiri oleh Riyan Hidayat, warga Desa Air Emas yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani.
Di tengah kesibukannya mencari nafkah di ladang, Riyan masih menyisihkan waktu dan tenaganya untuk melatih anak-anak. Ia terutama memberi ruang kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu agar mereka memiliki aktivitas positif sekaligus kesempatan untuk mengembangkan bakat.
“Semua ini swadaya. Lapangan pinjam, latihan pakai semangat. Anak-anak datang jalan kaki dari rumah dan ada yang diantar langsung sama orang tuanya,” ujar Riyan saat ditemui seusai latihan, Jumat (4/9/2026).
Kegiatan latihan saat ini hanya mampu dilaksanakan sekitar dua hingga tiga kali dalam sepekan. Frekuensi tersebut menyesuaikan kemampuan Riyan dan dukungan dana yang seluruhnya berasal dari swadaya.
Keterbatasan bukan hanya soal biaya latihan.
Peralatan sepak bola yang digunakan anak-anak juga jauh dari kata ideal. Bola yang digunakan sebagian sudah botak dan robek. Jaring gawang pun kondisinya sudah tidak layak.
Mereka belum memiliki jersey atau rompi latihan yang memadai, cone untuk latihan teknik, maupun sepatu sepak bola.
Namun keterbatasan itu tidak membuat anak-anak berhenti datang.
Bagi mereka, lapangan Tunggul Kolim bukan sekadar tempat menendang bola. Di tempat sederhana itu, mereka belajar bekerja sama, disiplin, berani bermimpi dan menikmati masa kanak-kanak dengan kegiatan yang positif.
Bagi Riyan, melatih anak-anak bukan semata-mata soal mencetak pemain sepak bola.
Lebih jauh, ia ingin menyediakan ruang bagi anak-anak Desa Air Emas untuk menyalurkan energi dan bakat mereka melalui kegiatan yang sehat.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi salah satu cara menjauhkan anak-anak dari pergaulan negatif sekaligus membuka kesempatan bagi mereka untuk berkembang.
“Mudah-mudahan anak-anak ini bisa menyalurkan bakatnya. Kalau ada kesempatan dan fasilitas, siapa tahu nanti ada yang bisa bermain di tingkat kabupaten bahkan provinsi,” katanya.
Harapan itu mungkin terdengar sederhana.
Tetapi bagi anak-anak yang berlatih dengan fasilitas terbatas, kesempatan adalah sesuatu yang sangat berharga.
Sebab tidak semua anak memiliki akses yang sama terhadap lapangan bagus, pelatih profesional, sepatu olahraga, maupun perlengkapan latihan.
Saat ditemui media GemaNegeriNews.com, Riyan bersama para orang tua murid menyampaikan keterbukaan bagi masyarakat, perusahaan, organisasi maupun pihak lain yang ingin membantu keberlangsungan kegiatan latihan sepak bola tersebut.
Bantuan yang paling dibutuhkan saat ini antara lain:
- Bola kaki ukuran 4 dan 5
- Rompi latihan atau jersey
- Cone latihan
- Sepatu sepak bola bekas yang masih layak pakai
- Jaring gawang dan perlengkapan latihan lainnya
Bantuan tidak harus selalu dalam bentuk uang. Peralatan olahraga yang sudah tidak digunakan tetapi masih layak juga dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi anak-anak.
“Bukan untuk saya. Ini untuk anak-anak. Biar mereka punya bola bagus dan bisa latihan lebih layak,” ujar Riyan.
Bagi masyarakat, perusahaan, organisasi, maupun pihak lain yang ingin memberikan dukungan, dapat menghubungi Riyan Hidayat, pelatih sepak bola anak-anak di Desa Air Emas, Kecamatan Singingi, Kabupaten Kuantan Singingi.
Sepak bola Indonesia tidak selalu menemukan bibit pemain dari akademi dengan fasilitas lengkap.
Kadang, mimpi itu tumbuh dari lapangan tanah di sebuah desa.
Dari kaki anak-anak yang datang dengan berjalan kaki.
Dari orang tua yang mengantar dengan kendaraan seadanya.
Dari seorang buruh tani yang setelah seharian bekerja masih memilih menyisihkan waktunya untuk melatih anak-anak.
Dan dari sebuah bola yang mulai botak dan robek, tetapi tetap ditendang dengan penuh semangat.
Lapangan Tunggul Kolim mungkin belum memiliki fasilitas seperti pusat pembinaan sepak bola profesional.
Tetapi di sana ada sesuatu yang tidak kalah penting: anak-anak yang masih percaya bahwa mereka boleh bermimpi.
Kini pertanyaannya bukan hanya apakah mereka memiliki bakat.
Pertanyaannya, apakah lingkungan di sekitar mereka mau memberi kesempatan?
Sebab satu bola baru mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang.
Namun bagi seorang anak desa, satu bola bisa menjadi awal dari latihan, persahabatan, disiplin, bahkan perjalanan panjang menuju sebuah mimpi.
Dari lapangan sederhana di Desa Air Emas, mungkin saja suatu hari lahir pemain yang membawa nama Singingi hingga ke tingkat kabupaten, provinsi, bahkan lebih jauh.
Kesempatan itu mungkin ada di depan mata.
Tinggal bagaimana kita memilih untuk memberikannya.*(ald)












