TEBING RAMBUTAN, KAUR (GemaNegeri.com) – Di tengah keterbatasan, warga Dusun Talang Jawa, Desa Tebing Rambutan, Kabupaten Kaur, Bengkulu, memilih tidak tinggal diam menghadapi kondisi jalan lingkungan yang rusak dan memprihatinkan.
Dengan dana sukarela hasil iuran dan sumbangan warga, masyarakat bahu-membahu melakukan gotong royong memperbaiki jalan yang menjadi akses utama menuju permukiman sekaligus kawasan perkebunan mereka, Jumat (4/9/2026).
Jalan lingkungan sepanjang sekitar 3 kilometer itu disebut warga telah mengalami kerusakan selama puluhan tahun. Kondisinya semakin sulit dilalui ketika hujan turun. Permukaan jalan menjadi licin, sehingga berisiko bagi pengendara maupun pejalan kaki.
Ironisnya, akses tersebut bukan hanya digunakan warga menuju kebun. Jalan itu juga setiap hari dilalui anak-anak yang berangkat dan pulang sekolah.
Kondisi tersebut membuat warga berinisiatif melakukan perbaikan secara swadaya. Material dan kebutuhan perbaikan dikumpulkan sesuai kemampuan masyarakat.
“Gotong royong ini diprakarsai oleh warga sekitar Dusun Talang Jawa. Kami butuh perhatian pemerintah karena selama ini belum ada perbaikan,” ujar Made (52), warga setempat, saat mengikuti kegiatan gotong royong, Jumat (4/9/2026).
Menurut Made, dana yang digunakan dalam kegiatan tersebut berasal dari iuran dan sumbangan warga.
“Dana yang kami kumpulkan dari iuran dan sumbangan warga sekitar, dengan seadanya,” katanya.
Bagi warga Talang Jawa, persoalan jalan bukan sekadar mengenai kenyamanan berkendara. Jalan tersebut merupakan urat nadi aktivitas sehari-hari masyarakat.
Selain menjadi akses menuju rumah warga, jalan juga menghubungkan masyarakat dengan lahan perkebunan yang menjadi sumber penghidupan.
Karena itu, kerusakan jalan yang berlangsung bertahun-tahun dinilai semakin menyulitkan masyarakat, terlebih ketika musim penghujan tiba.
Jalan yang licin membuat warga harus lebih berhati-hati. Risiko kecelakaan semakin besar bagi pengendara sepeda motor, sementara anak-anak sekolah juga harus melewati jalur yang sama.
Di tengah keterbatasan anggaran masyarakat, gotong royong akhirnya menjadi pilihan.
Warga memperbaiki jalan menggunakan kemampuan dan sumber daya yang mereka miliki. Semangat kebersamaan menjadi modal utama untuk membuat akses tersebut kembali lebih layak dilalui.
Namun, gotong royong warga juga menyisakan pertanyaan yang lebih besar: sampai kapan masyarakat harus memperbaiki sendiri infrastruktur dasar yang seharusnya mendapat perhatian pemerintah?
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Kaur dan Pemerintah Provinsi Bengkulu dapat melihat langsung kondisi jalan tersebut dan memasukkannya dalam prioritas pembangunan infrastruktur.
Mereka tidak meminta kemewahan. Yang diharapkan warga sederhana: jalan yang aman untuk anak-anak sekolah, nyaman bagi masyarakat, serta dapat menunjang aktivitas ekonomi warga menuju perkebunan.
Kerusakan jalan sepanjang sekitar 3 kilometer yang disebut telah berlangsung puluhan tahun itu kini menjadi potret lain tentang bagaimana masyarakat di pelosok bertahan dengan keterbatasan.
Ketika pembangunan belum juga menyentuh akses mereka, warga memilih mengangkat cangkul dan bergotong royong.
Mereka memperbaiki jalan dengan uang sendiri. Namun, harapan mereka tetap tertuju kepada pemerintah.*(ald)












