• Bagikan

KAUR, BENGKULU (GemaNegeri.com) – Tahun baru dalam penanggalan Islam datang tanpa dentuman kembang api atau gemerlap pesta. Ia hadir membawa pesan hijrah, mengajak setiap hati untuk kembali menata langkah menuju kehidupan yang lebih baik. Di Desa Air Batang Nasal, Kecamatan Nasal, Kabupaten Kaur, pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah disambut dengan cara yang sederhana, namun sarat makna: memuliakan anak-anak yatim-piatu.

Di Masjid Al-Ikhlas, Senin (29/6/2026), lantunan ayat suci Al-Qur’an berpadu dengan doa-doa yang mengalun lembut. Ratusan warga memenuhi rumah ibadah itu. Tidak hanya untuk memperingati datangnya tahun baru Islam, tetapi juga menghadirkan secercah kebahagiaan bagi mereka yang sejak kecil harus belajar hidup tanpa pelukan utuh orang tua.

Sebanyak 25 anak yatim-piatu duduk dengan wajah penuh harap. Di tangan mereka kemudian berpindah paket sembako dan santunan berupa uang tunai. Nilainya mungkin tak mampu menggantikan kasih sayang yang telah tiada, tetapi perhatian dan kepedulian masyarakat menjadi pelipur yang menghangatkan hati.

Momentum tersebut turut dihadiri Camat Nasal, Kepala Desa Air Batang Nasal beserta perangkat desa, anggota BPD, tokoh agama, tokoh masyarakat, Kapolsek Nasal, Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan masyarakat yang datang dengan satu niat yang sama, yaitu berbagi keberkahan di awal tahun Hijriah.

Kepala Desa Air Batang Nasal, Pepen Supendi, mengatakan bahwa Muharram adalah bulan yang mengajarkan umat Islam untuk memperbanyak amal kebajikan dan mempererat kepedulian terhadap sesama.

“Melalui santunan ini, kami berharap dapat meringankan beban anak-anak yatim-piatu sekaligus menumbuhkan semangat berbagi di tengah masyarakat. Semoga di tahun baru Islam ini, Desa Air Batang Nasal semakin bersatu dan diberkahi Allah SWT,” tuturnya.

Ucapan itu disambut anggukan para warga. Sebab mereka memahami, membangun sebuah desa bukan hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga dengan menumbuhkan rasa kasih sayang, gotong royong, dan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan Ustaz Zazein Zainal Mustafa, S.Ag. dari Sumber Jaya, Lampung Barat. Dalam ceramahnya, ia mengajak jamaah memaknai hijrah sebagai perjalanan memperbaiki akhlak, memperkuat iman, dan meneladani sifat-sifat mulia Rasulullah SAW.

Menurutnya, setiap pergantian tahun Hijriah seharusnya menjadi waktu untuk bercermin. Bukan sekadar menghitung usia yang bertambah, melainkan menghitung seberapa banyak kebaikan yang telah ditanamkan kepada sesama manusia.

Doa bersama menutup seluruh rangkaian kegiatan. Tangan-tangan terangkat ke langit, memohon keberkahan untuk desa, keselamatan bagi bangsa, dan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak yatim yang menjadi amanah bersama.

Di sudut Masjid Al-Ikhlas, senyum-senyum kecil itu menjadi pemandangan yang paling indah. Senyum yang lahir dari uluran tangan, dari kepedulian, dan dari keyakinan bahwa masih banyak hati yang memilih berbagi.

Begitulah Air Batang Nasal menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Bukan dengan kemewahan, melainkan dengan cinta yang diwujudkan dalam tindakan. Sebab hakikat hijrah bukan sekadar berpindah waktu, melainkan berpindah menuju pribadi yang lebih peduli, lebih ikhlas, dan lebih bermanfaat bagi sesama.*(kif)

Penulis: ZulkifliEditor: aldian syahmubara
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *