PETI Cerenti Seolah Kebal Hukum, Emak-Emak Turun Berdemo, Warga Tantang Aparat Tangkap Pemodal

  • Bagikan

KUANSING (GemaNegeri.com) – Operasi demi operasi telah digelar. Rakit-rakit Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) berkali-kali dibakar. Aparat kepolisian berulang kali mengumumkan penindakan. Namun, hingga hari ini, aktivitas tambang emas ilegal di sepanjang aliran Sungai Kuantan, khususnya di wilayah hukum Polsek Cerenti, dilaporkan masih tetap berlangsung.

Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Mengapa aktivitas yang secara berulang ditertibkan justru kembali beroperasi? Siapa pihak yang mampu menjaga rantai bisnis PETI tetap hidup meski penindakan terus dilakukan?

Keresahan masyarakat kini tidak lagi sebatas percakapan di warung kopi. Beberapa hari lalu, sekelompok emak-emak turun langsung menggelar aksi demonstrasi sebagai bentuk protes terhadap aktivitas PETI yang dinilai telah merusak lingkungan dan mengancam keberlangsungan Sungai Kuantan.

Dalam aksi tersebut, mereka menyuarakan penolakan terhadap praktik pertambangan ilegal yang disebut telah mengubah wajah sungai, berpotensi mencemari kualitas air, serta mengganggu ruang hidup masyarakat yang selama ini menggantungkan kebutuhan sehari-hari pada aliran Sungai Kuantan.

Namun, aksi protes itu tampaknya belum diikuti perubahan nyata di lapangan. Berdasarkan informasi yang diperoleh media, aktivitas PETI disebut masih terlihat berlangsung di sejumlah titik.

Kondisi ini memunculkan anggapan di tengah masyarakat bahwa pola penindakan selama ini belum menyentuh akar persoalan.

Menurut warga, membakar rakit atau mengejar pekerja lapangan hanya menyelesaikan persoalan sesaat. Mereka menilai praktik PETI akan terus hidup selama pihak yang diduga menjadi pemodal maupun aktor utama di balik operasi tambang ilegal tersebut belum tersentuh proses hukum.

“Kalau hanya rakit yang dibakar, besok bisa dibuat lagi. Yang dibutuhkan masyarakat adalah keberanian aparat membongkar jaringan sampai ke pemodalnya. Selama cukongnya tidak ditindak, PETI tidak akan pernah selesai,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Warga berharap aparat penegak hukum mengusut dugaan jaringan yang berada di balik aktivitas PETI, termasuk menelusuri aliran pendanaan, kepemilikan peralatan, hingga pihak-pihak yang diduga memperoleh keuntungan dari aktivitas tersebut, apabila didukung alat bukti sesuai ketentuan hukum.

Sementara itu, upaya konfirmasi telah dilakukan kepada Kapolsek Cerenti, Iptu Fery. Pesan WhatsApp dikirim pada Ahad (12/7/2026) sekitar pukul 19.36 WIB, disertai dokumentasi berupa foto aktivitas PETI serta video aksi demonstrasi emak-emak.

Pesan yang dikirim berbunyi:

“Izin Komandan, terkait demo kemarin dan masih berlangsungnya aktivitas PETI di Sungai Kuantan, mohon tanggapannya, Komandan.”

Pesan tersebut diketahui telah terkirim. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan dari Kapolsek Cerenti.

Belum adanya respons dari pihak kepolisian di tingkat sektor menambah tanda tanya di tengah masyarakat yang mengharapkan penjelasan mengenai langkah konkret penanganan PETI di wilayah tersebut.

Masyarakat kini berharap Kapolres Kuantan Singingi bersama Polda Riau melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi pemberantasan PETI. Menurut mereka, keberhasilan penegakan hukum tidak cukup diukur dari banyaknya rakit yang dibakar, melainkan dari terungkapnya pihak-pihak yang diduga mengendalikan dan membiayai praktik pertambangan ilegal tersebut.

Hingga berita ini dipublikasikan, media masih membuka ruang hak jawab bagi Kapolsek Cerenti maupun Polres Kuantan Singingi apabila ingin memberikan penjelasan atau klarifikasi atas informasi yang berkembang di masyarakat.*(team)

Penulis: TeamEditor: redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *