Memupuk Asa di Tanah Gengsi: Mengapa Anak Muda Enggan Mencangkul?

  • Bagikan

GemaNegeri.com – Melihat hamparan hijau sawah dan ladang kita hari ini, ada sebuah paradoks yang menyesakkan dada. Di satu sisi, kita bicara soal kedaulatan pangan, namun di sisi lain, kita kehilangan “tangan-tangan muda” yang seharusnya melanjutkan estafet ini. Mengubah pola pikir generasi muda untuk mau turun ke sawah ternyata jauh lebih sulit daripada membasmi hama yang paling resisten sekalipun.

Sebagai pelaku atau pengamat di sektor ini, saya melihat ada tiga tembok besar yang menghalangi langkah mereka:

1. Jebakan Gengsi dan Stigma “Kotor”
Mari jujur, di mata sebagian besar anak muda, menjadi petani dianggap tidak keren. Ada stigma yang melekat bahwa bertani adalah pekerjaan “orang tua”, identik dengan lumpur, panas matahari, dan pakaian lusuh. Di era media sosial, citra adalah segalanya. Bekerja di balik meja dengan pendingin ruangan (AC) dan kemeja rapi jauh lebih menggoda daripada memegang cangkul di bawah terik matahari. Gengsi telah mengalahkan esensi bahwa tanpa petani, meja makan di kota-kota besar akan kosong.

2. Isu Kesejahteraan: Apakah Menjanjikan?
Kita tidak bisa menyalahkan anak muda sepenuhnya jika mereka bertanya, “Bisakah saya hidup dari sini?”. Ketidakpastian harga saat panen raya masih menjadi momok. Tanpa jaminan harga yang stabil dan perlindungan terhadap gagal panen, bertani seringkali terlihat seperti perjudian daripada sebuah profesi yang menjanjikan masa depan cerah. Bagi mereka yang terbiasa dengan kepastian gaji bulanan, fluktuasi ekonomi di sektor pertanian adalah risiko yang menakutkan.

3. Labirin Pemasaran yang Rumit
Faktor ketiga adalah rantai distribusi yang panjang dan rumit. Seringkali, petani yang memeras keringat justru mendapatkan bagian terkecil, sementara keuntungan besar diambil oleh para perantara. Pemasaran yang belum terintegrasi dengan teknologi membuat banyak anak muda merasa bahwa bertani itu melelahkan secara fisik, namun juga memusingkan secara birokrasi dan pasar.

Kesimpulan
Merubah pola pikir tidak bisa dilakukan hanya dengan retorika. Kita butuh modernisasi pertanian—atau yang kini dikenal dengan Smart Farming—untuk menghilangkan kesan kuno. Kita butuh kebijakan harga yang memihak, agar bertani tidak lagi dianggap sebagai jalur kemiskinan, melainkan sebuah bisnis yang bermartabat.

Jika kita tidak mulai dari sekarang, maka di masa depan, tanah-tanah subur ini hanya akan menjadi saksi bisu atas generasi yang lebih memilih membeli beras impor daripada menanamnya di tanah sendiri.*(anje)

Penulis: andrian jeneriEditor: aldian syahmubara
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *