SINGINGI (GemaNegeri.com) – Upaya pencegahan wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) di tengah musim penghujan terus digencarkan. Salah satunya melalui kegiatan gotong royong yang dilakukan masyarakat Desa Air Emas, Kecamatan Singingi, pada Jumat (17/04/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Kepala Desa Air Emas H. Adi Setiyo, SH, pihak Puskesmas Sungai Keranji yang diwakili Wiyono, Babinsa Air Emas Serka Afriadi, BPD, mahasiswa KKN UNIKS, Yayasan Bahrul Ulum, hingga para Ketua RT/RW dan masyarakat setempat.
Fokus utama gotong royong ini adalah membersihkan lingkungan dan drainase guna mencegah berkembangnya jentik nyamuk penyebab DBD, terutama di genangan air yang kerap muncul saat musim hujan.
Kepala Desa Air Emas, Adi Setiyo, SH, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga kesehatan lingkungan.
“Ini adalah wujud smart society atau masyarakat yang cerdas. Kita sadar bahwa kesehatan bisa diwujudkan melalui upaya bersama, salah satunya dengan gotong royong menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah penyakit demam berdarah,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, selain menjaga kebersihan, kegiatan gotong royong ini mampu mempererat kebersamaan dan meningkatkan kepedulian sosial antarwarga.
“Dengan kebersamaan ini, kita juga mendorong terlaksananya gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara berkelanjutan di tengah masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Wiyono dari Puskesmas Sungai Keranji menjelaskan bahwa musim pancaroba yang disertai curah hujan tinggi menjadi faktor utama berkembangnya nyamuk Aedes aegypti, penyebab DBD.
Untuk itu, ia mengimbau masyarakat agar konsisten menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan pola hidup sehat melalui langkah 3M Plus.
“Saya minta masyarakat rutin melakukan 3M Plus, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta menimbun barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk,” tutupnya.

Melalui gerakan gotong royong ini, diharapkan kesadaran masyarakat semakin meningkat sehingga potensi penyebaran DBD dapat ditekan, serta lingkungan desa tetap bersih, sehat, dan nyaman untuk ditinggali.*(JT)













