Semakin Menggila, Aktivitas PETI di Pulau Busuk Inuman Seolah Kebal Hukum

  • Bagikan

KUANTAN SINGINGI (GemaNegeri.com) – Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan Pulau Busuk, Kecamatan Inuman, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, kembali menjadi sorotan. Meski sebelumnya sempat dilakukan penertiban dan dibakar oleh aparat, aktivitas tambang ilegal tersebut kini justru kembali beroperasi, menjamur, dan semakin menggila. Ahad (8/3/2026).

Berdasarkan pantauan awak media di lapangan, sedikitnya 18 unit rakit PETI terlihat beroperasi di kawasan tersebut. Rakit-rakit itu tersebar di sepanjang aliran sungai di sekitar Pulau Busuk dan bekerja hampir tanpa henti.

Ironisnya, aktivitas tambang ilegal itu berlangsung secara terang-terangan pada siang hari. Belasan rakit PETI bekerja di aliran sungai dan terlihat jelas oleh siapa saja yang melintas di kawasan tersebut. Tanpa upaya menutupi aktivitasnya, para penambang terus mengaduk material sungai demi mencari butiran emas, seakan tak mempedulikan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan, bahkan terkesan tidak takut terhadap hukum yang seharusnya menindak praktik ilegal tersebut.

Padahal, beberapa waktu lalu aparat penegak hukum diketahui telah melakukan penertiban di kawasan tersebut. Dalam operasi itu, sejumlah rakit PETI bahkan sempat dimusnahkan dengan cara dibakar. Namun kondisi di lapangan saat ini justru menunjukkan hal yang berbeda. Aktivitas tambang ilegal itu kembali beroperasi, bahkan dengan jumlah yang tidak sedikit.

Akibat aktivitas tersebut, kondisi air sungai di sekitar lokasi terlihat semakin keruh. Material tanah yang terus diaduk membuat sedimentasi meningkat dan dikhawatirkan dapat merusak ekosistem sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar.

Situasi ini menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Pasalnya, meski sudah pernah ditertibkan, praktik PETI di kawasan Pulau Busuk seolah tidak pernah benar-benar berhenti.

Dampak dari aktivitas tersebut pun mulai terlihat. Air sungai yang sebelumnya relatif jernih kini tampak semakin keruh akibat material tanah yang terus diaduk oleh mesin dompeng. Kondisi ini dikhawatirkan dapat merusak ekosistem sungai dan mengancam keberlangsungan lingkungan di wilayah tersebut.

Sejumlah warga mengaku resah dengan maraknya aktivitas PETI di wilayah tersebut. Namun, mereka juga mengaku enggan berbicara secara terbuka karena khawatir akan dampak yang bisa timbul.

“Sudah lama beroperasi di sana. Sekarang jumlahnya makin banyak, siang hari mereka bekerja,” ujar Bejo (nama samaran), seorang warga.

“Dulu memang sempat ditertibkan, bahkan ada yang dibakar. Tapi sekarang sudah banyak lagi yang bekerja,” ujarnya.

Maraknya kembali aktivitas PETI di Pulau Busuk ini pun memunculkan kesan bahwa tambang ilegal tersebut seolah kebal terhadap hukum.

Masyarakat berharap adanya langkah tegas dan berkelanjutan dari aparat penegak hukum agar aktivitas yang merusak lingkungan ini benar-benar dapat dihentikan, bukan hanya ditertibkan sesaat lalu kembali beroperasi.

Hingga berita ini diterbitkan, aktivitas 18 rakit PETI tersebut masih terlihat beroperasi di lokasi. Belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai langkah penertiban terhadap tambang ilegal yang kian menggila itu.*(Team)

Penulis: teamEditor: redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *