KUANTAN SINGINGI (GemaNegeri.com) – Senja di Kebun Lado perlahan meredup, membawa angin yang lembut di antara percakapan para pemuda yang berkumpul di sebuah sudut sederhana: Ikan Bakar Mak Ebot. Di tempat itulah, pada Jumat (6/3/2026), sekelompok anak muda memaknai Ramadan dengan cara yang hangat—berbuka puasa bersama, sambil merawat silaturahmi yang telah lama terjalin.

Kegiatan ini dimotori oleh Wawan Oki bersama rekan-rekannya, yang berinisiatif menghadirkan sebuah pertemuan sederhana namun sarat makna. Tidak ada panggung, tidak ada seremoni besar. Hanya meja-meja kayu, aroma ikan bakar yang mengepul dari dapur, dan wajah-wajah yang dipenuhi keakraban.
Menjelang waktu berbuka, satu per satu pemuda datang dan mengambil tempat. Sebagian saling menyapa dengan pelukan ringan, sebagian lain larut dalam percakapan panjang yang mungkin telah lama tertunda oleh kesibukan hidup masing-masing.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, pertemuan seperti ini menjadi ruang jeda. Ruang di mana persahabatan tidak sekadar dikenang, tetapi dirawat.
Wawan Oki mengatakan bahwa pertemuan tersebut lahir dari keinginan sederhana para pemuda untuk menjaga kebersamaan di lingkungan mereka.
“Kadang kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Ramadan ini jadi waktu yang tepat untuk berkumpul lagi, saling menyapa, dan mengingat bahwa kita masih satu kampung, satu cerita,” ujarnya dengan nada santai.
Aroma ikan bakar yang khas perlahan memenuhi udara. Dari dapur Mak Ebot, asap tipis mengepul, seakan menjadi penanda bahwa waktu berbuka kian mendekat.
Percakapan di meja-meja itu tidak hanya berisi tawa. Ada juga cerita tentang kehidupan, tentang pekerjaan, tentang mimpi-mimpi yang masih disimpan para pemuda desa.
Ketika azan Magrib akhirnya berkumandang, suasana seketika menjadi lebih hening. Doa-doa dipanjatkan, lalu tangan-tangan yang sejak sore menunggu dengan sabar akhirnya menyentuh hidangan berbuka.
Sederhana, namun penuh makna.
Buka puasa bersama itu bukan sekadar tentang mengakhiri lapar dan dahaga setelah seharian berpuasa. Ia menjadi simbol kebersamaan, tentang bagaimana persahabatan tetap menemukan jalannya untuk bertemu, bahkan di tengah kesibukan hidup.
Di Kebun Lado, malam itu, para pemuda tidak hanya berbagi makanan. Mereka berbagi cerita, tawa, dan harapan—bahwa kebersamaan seperti ini akan terus hidup, seperti api kecil yang menjaga hangatnya persaudaraan di antara mereka.*(Yd)













