Walang Sangit, Hama Padi Kecil yang Bisa Bikin Petani Gagal Panen

  • Bagikan
Oplus_131072

GemaNegeri.com – Walang sangit menjadi salah satu hama yang paling diwaspadai petani padi. Meski ukurannya kecil, serangga ini mampu menurunkan hasil panen secara drastis, bahkan menyebabkan gagal panen jika populasinya tinggi. Mengetahui siklus hidup dan cara pengendaliannya menjadi kunci penting agar petani bisa mencegah kerugian besar.

 

Siklus Hidup Walang Sangit

Walang sangit mengalami metamorfosis tidak sempurna yang terdiri dari tiga tahap: telur, nimfa, dan dewasa (imago).

 

1. Telur

Diletakkan berkelompok di bagian atas daun padi atau rerumputan.

Berwarna hitam atau kekuningan, lalu berubah menjadi coklat kemerahan sebelum menetas.

Masa inkubasi berlangsung sekitar 5–7 hari.

 

2. Nimfa

Baru menetas berwarna hijau muda dan belum bersayap.

Bergerak ke malai untuk menghisap cairan bulir padi pada fase masak susu.

Mengalami beberapa kali pergantian kulit (instar) hingga ukuran tubuh membesar.

Fase nimfa berlangsung 15–20 hari atau lebih.

 

3. Dewasa (Imago)

Berwarna coklat atau kuning kehijauan, berukuran 14–17 mm.

Aktif menghisap cairan bulir padi yang masih lunak sehingga bulir tidak terisi sempurna, menjadi hampa, atau mengering.

Serangga dewasa dapat hidup 30–40 hari dan menghasilkan beberapa generasi dalam satu musim tanam.

Total siklus hidup walang sangit sekitar 25–30 hari, namun lama waktunya bisa dipengaruhi kondisi lingkungan.

 

Dampak pada Tanaman Padi

Serangan walang sangit paling berbahaya pada fase pengisian bulir (masak susu) hingga menjelang panen. Hisapan hama ini menyebabkan:

Bulir tidak terisi penuh (hampa).

Warna bulir menjadi coklat kehitaman dan kering.

Penurunan hasil panen secara signifikan.

Cara Pengendalian Walang Sangit

1. Pengendalian Secara Alami

Tanam serempak: Menyamakan jadwal tanam di satu wilayah untuk memutus siklus hidup hama.

Menjaga kebersihan lahan: Membersihkan gulma atau rerumputan yang bisa menjadi tempat bertelur.

Menggunakan musuh alami: Seperti laba-laba, belalang sembah, atau kepik predator yang memangsa telur/nimfa walang sangit.

Penggunaan bahan nabati: Ekstrak daun mimba, serai, atau tembakau bisa disemprotkan untuk mengurangi populasi hama.

 

2. Pengendalian Mekanis

Mengumpulkan walang sangit secara langsung pada pagi hari saat mereka masih kurang aktif.

Memasang lampu perangkap di malam hari untuk menarik dan menjebak serangga dewasa.

 

3. Pengendalian Kimia (Pestisida)

Jika serangan sudah parah, penggunaan insektisida berbahan aktif yang dianjurkan bisa dilakukan.

Penyemprotan sebaiknya tepat waktu, terutama pada fase masak susu, dan dilakukan sesuai dosis anjuran agar tidak merusak lingkungan.*(anje)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *