Seribu Joran di Tengah Sungai yang tercemar: Ironi Mancing Akbar dan Janji Manis di Sungai Kuantan

  • Bagikan

KUANSING (GemaNegeri.com) – Pemandangan tak biasa terlihat di tepian Sungai Kuantan hari ini. Lebih dari seribu joran melengkung, melemparkan umpan ke aliran sungai dengan harapan membawa pulang tangkapan. Acara Mancing Akbar yang diresmikan langsung oleh Bupati Kuantan Singingi ini tampak meriah, namun di balik keriuhan itu, tersimpan ironi yang menyesakkan dada. Ahad (18/01/2026).

Ribuan pemancing ini mengadu peruntungan di aliran sungai yang tak lagi jernih. Sungai Kuantan, yang menjadi urat nadi masyarakat, kini tampak jelas tercemar oleh limbah Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Air yang keruh dan terkontaminasi zat kimia seolah menjadi saksi bisu betapa parahnya kerusakan ekosistem yang terjadi.

Melepas Bibit di Air yang Sakit
Dalam rangkaian acara tersebut, Bupati Kuansing juga melakukan prosesi pelepasan bibit ikan ke sungai. Sebuah simbolisme yang diharapkan dapat melestarikan populasi ikan. Namun, banyak pihak mempertanyakan efektivitas langkah ini. Bagaimana mungkin bibit ikan bisa bertahan hidup jika rumah mereka—yakni air sungai—sudah terpapar limbah berat?

Dalam sambutannya, Bupati menyelipkan pesan agar seluruh lapisan masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan. Namun, pesan tersebut terasa hambar di telinga masyarakat yang setiap hari melihat aktivitas PETI di depan mata tanpa ada tindakan tegas.

Pernyataan “jaga lingkungan” kini terdengar seperti lagu lama yang terus diputar berulang-ulang oleh setiap pemimpin yang silih berganti di negeri ini. Tanpa adanya tindakan nyata dan penegakan hukum yang keras terhadap pelaku perusakan sungai, ucapan-ucapan manis di atas panggung hanya menjadi retorika belaka.

Masyarakat tidak butuh sekadar imbauan; masyarakat butuh sungai yang bersih kembali. Mancing akbar hari ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan sebuah pengingat pahit bahwa kita sedang memancing di atas kehancuran alam yang dibiarkan tanpa solusi nyata.*(anje)

Penulis: andrian jeneriEditor: Redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *