TELUK KUANTAN (GemaNegeri.com) – Di balik ketenangan desa-desa di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), tersimpan ancaman nyata yang perlahan menggerus ekonomi kerakyatan. Fenomena judi online (judol) kini bukan lagi rahasia umum, melainkan “hama” yang merambah hingga ke warung-warung kopi di pelosok desa.
Berdasarkan simulasi data sederhana, angka perputaran uang haram ini di wilayah hukum Kuansing sangatlah dahsyat. Jika diasumsikan setiap desa memiliki satu titik kumpul (warung) dengan hanya tiga pemain aktif berdeposit rendah, angka yang dihasilkan tetap mencengangkan.
Dengan total 218 desa dan 11 kelurahan yang tersebar di 15 kecamatan, berikut adalah estimasi perputaran uangnya:
Total Titik Pantau: 229 Wilayah (Desa/Kelurahan).
Jumlah Pemain per Titik: 3 Orang.
Rata-rata Deposit Harian: Rp50.000,- per pemain.
Hasil Simulasi:
Per Hari: 229 wilayah × 3 pemain × Rp50.000 = Rp34.350.000
Per Bulan (30 Hari): Rp34.350.000 × 30 = Rp1.030.500.000
Angka Rp1 Miliar lebih per bulan ini bukanlah angka kecil untuk ukuran ekonomi daerah. Ini adalah uang yang “terbang” keluar dari Kuansing menuju kantong para bandar, tanpa memberikan kontribusi sedikit pun pada pembangunan daerah atau kesejahteraan masyarakat setempat.
Politisi muda Partai solidaritas indonesia fuja ibrahim mengkhawatirkan bahwa angka ini sebenarnya bisa jauh lebih tinggi di lapangan. Deposit Rp50 ribu seringkali hanyalah angka minimal bagi sebagian pecandu.
“Uang satu miliar itu jika berputar di pasar tradisional, bisa menghidupkan ratusan UMKM di Kuansing. Namun, karena judi online, uang itu hilang begitu saja. Dampaknya, daya beli masyarakat menurun, dan angka kriminalitas kecil di tingkat desa cenderung meningkat,” sebut Fuja ibrahim dengan nada kecewa.
Fenomena ini menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kabupaten Kuansing, aparat penegak hukum, hingga tokoh agama. Edukasi di tingkat desa harus diperkuat agar masyarakat sadar bahwa setiap rupiah yang mereka depositkan bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga memiskinkan daerah secara sistematis.
Jika tidak segera dibendung, “kebocoran” dana Rp1 Miliar per bulan ini akan terus menjadi parasit yang melumpuhkan ekonomi dari akar rumput ujar fuja menutup perbincangan.*(anje)













