Dahulukan Adab Sebelum Ilmu: Fondasi Keberkahan dalam Menuntut Pengetahuan

  • Bagikan

GemaNegeri.com Di era modern saat ini, ilmu semakin mudah diakses. Teknologi menjadikan pengetahuan seolah tanpa batas—cukup dengan membuka gawai, ribuan informasi bisa diperoleh. Namun, kemudahan ini juga melahirkan generasi yang sering kali lebih pintar daripada beradab. Mereka pandai berbicara, cepat menguasai informasi, tetapi mudah merendahkan, menyalahkan, bahkan mencaci. Inilah yang dikhawatirkan para ulama sejak dahulu: ilmu yang tidak dibingkai dengan adab akan menjerumuskan pemiliknya.

Imam Malik rahimahullah menekankan pentingnya adab dengan ungkapan masyhur: “Pelajarilah adab sebelum ilmu.” Pesan ini tidak lekang dimakan zaman. Seorang yang beradab, meskipun ilmunya sedikit, tetap akan mulia. Sebaliknya, orang berilmu tanpa adab akan terhina oleh perilakunya sendiri.

Bukti sejarah menunjukkan hal itu. Imam Syafi’i yang dikenal sangat cerdas tetap tunduk penuh hormat kepada Imam Malik. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal, ulama besar yang diakui dunia, tetap mendoakan gurunya Imam Syafi’i selama empat puluh tahun dalam shalatnya. Semua itu bukan karena kurangnya ilmu, tetapi karena kuatnya adab.

Al-Qur’an pun menekankan adab sebelum ilmu. Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 2:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu kepada sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadarinya.”

Ayat ini menunjukkan betapa pentingnya adab, bahkan terhadap suara di hadapan Rasulullah ﷺ. Sebelum ilmu yang beliau sampaikan dipahami, umat diminta terlebih dahulu beradab kepada beliau.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).

Hadits ini menegaskan bahwa inti risalah kenabian adalah adab dan akhlak. Ilmu yang diajarkan Nabi ﷺ bukan sekadar pengetahuan, tetapi jalan menuju kemuliaan budi pekerti.

Hari ini, kita bisa melihat fenomena yang cukup mengkhawatirkan. Di ruang publik, baik nyata maupun maya, banyak orang yang mengaku berilmu tetapi kehilangan adab. Di media sosial, orang dengan mudah menghardik, menghina, bahkan mencaci maki atas nama kebenaran. Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu melainkan ia akan memperindahnya, dan tidaklah kelembutan dicabut melainkan akan memperburuknya.” (HR. Muslim).

Generasi muda hari ini harus disadarkan bahwa menuntut ilmu tanpa adab hanyalah jalan menuju kesombongan. Sementara menuntut ilmu dengan adab adalah jalan menuju keberkahan. Inilah yang seharusnya menjadi kurikulum tersembunyi di sekolah, kampus, bahkan di rumah: menanamkan adab sebagai fondasi, sebelum menjejali kepala dengan teori dan pengetahuan.

Ilmu adalah cahaya, tetapi cahaya itu tidak akan masuk ke hati yang gelap oleh kesombongan dan hilangnya adab. Maka, mari kita kembalikan prioritas: dahulukan adab daripada ilmu. Sebab dengan adab, ilmu akan berbuah keberkahan; tanpa adab, ilmu hanya akan menjadi hiasan kosong yang menipu pemiliknya.*

 

Source: Aldian Syahmubara

Jurnalis Kilasriau.com

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *