KUANTAN SINGINGI (GemaNegeri.com) – Pagi di Sungai Kuantan seharusnya selalu menghadirkan ketenangan. Air mengalir perlahan, pepohonan di bantaran berdiri hijau, dan kabut tipis biasanya menyelimuti aliran sungai yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Kuantan Singingi. Namun pada Ahad, 4 Januari 2026, sekitar pukul 08.55 WIB, ketenangan itu tak sepenuhnya hadir di wilayah Pulau Busuk, Kecamatan Inuman, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.
Di tengah aliran sungai, sejumlah rakit kayu berukuran besar tampak berjajar. Rangka-rangka kayu berdiri kaku menopang mesin dompeng yang bekerja tanpa henti. Bunyi mesin memecah sunyi pagi, menyedot pasir dan lumpur dari dasar sungai—mencari serpihan emas di balik air yang kian keruh.
Air Sungai Kuantan tampak kecokelatan, kehilangan kejernihan yang dulu menjadi ciri khasnya. Aliran itu bergerak pelan, seolah membawa cerita tentang perubahan yang tak pernah diminta oleh alam, namun harus ditanggungnya berulang kali.
Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) bukanlah hal baru bagi kawasan ini. Namun setiap kali ia kembali, sungai selalu menjadi pihak yang pertama kali merasakan dampaknya. Lumpur yang teraduk dari dasar sungai perlahan menutup ruang hidup biota air, sementara air yang dulunya dimanfaatkan warga untuk berbagai kebutuhan kini tak lagi ramah.
Bagi masyarakat di sekitar bantaran, sungai bukan sekadar bentangan air. Ia adalah tempat menggantungkan hidup, jalur perahu, sumber ikan, dan bagian dari ingatan kolektif tentang alam yang pernah bersahabat.
“Sekarang air sudah jarang bening. Ikan pun susah didapat,” tutur seorang warga setempat dengan suara pelan, memilih tidak disebutkan namanya.
Aktivitas Terbuka, Sunyi Pengawasan
Yang menjadi sorotan, aktivitas PETI di Pulau Busuk ini berlangsung terbuka di siang hari. Rakit-rakit bekerja tanpa penutup, tanpa sekat, seolah praktik ini telah menjadi pemandangan yang dianggap biasa.
Pulau Busuk sendiri kerap disebut sebagai salah satu titik rawan aktivitas tambang ilegal. Penertiban pernah dilakukan, namun jejak-jejak PETI seperti tak pernah benar-benar hilang. Ia pergi sebentar, lalu kembali, meninggalkan pertanyaan tentang konsistensi pengawasan dan penegakan hukum.
Tak hanya berdampak pada lingkungan, keberadaan mesin dompeng itu juga menimbulkan kegelisahan sosial. Suara bising mesin yang meraung hampir sepanjang hari memecah ketenangan kampung-kampung di sekitar bantaran sungai. Dentumannya terdengar hingga ke rumah-rumah warga, terutama pada pagi dan siang hari, mengganggu waktu istirahat serta aktivitas sehari-hari masyarakat.
“Bunyinya bukan sebentar. Kadang dari pagi sampai sore. Kepala bisa pening, apalagi kalau rumah dekat sungai,” ujar seorang warga Pulau Busuk dengan nada resah.
Bagi masyarakat, kebisingan itu bukan sekadar gangguan telinga. Ia menjadi penanda bahwa aktivitas PETI masih terus berlangsung, hadir nyata dalam suara yang tak bisa dihindari, seolah mengingatkan bahwa sungai mereka belum benar-benar bebas dari tekanan eksploitasi.
Sungai Kuantan menyimpan lebih dari sekadar pasir dan lumpur. Ia menyimpan masa depan. Ketika dasar sungai terus dikeruk dan air semakin keruh, yang terancam bukan hanya ekosistem, tetapi juga keberlanjutan hidup generasi yang tinggal di sekitarnya.
Masyarakat berharap ada langkah nyata dari pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk menghentikan praktik PETI yang terus berulang. Bukan sekadar penertiban sesaat, melainkan pengawasan berkelanjutan serta upaya pemulihan sungai yang telah lama menanggung beban.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait aktivitas PETI yang terpantau di wilayah Pulau Busuk, Kecamatan Inuman tersebut.
Sungai Kuantan tetap mengalir, membawa air yang tak pernah memilih beban. Ia tidak menjerit ketika dasar tubuhnya dikeruk, tidak mengaduh saat lumpur mengaburkan kejernihannya. Sungai hanya terus berjalan, setia pada kodratnya menghidupi, meski yang ia terima kerap kali adalah luka.
Di Pulau Busuk, mesin-mesin itu boleh jadi akan berhenti suatu hari. Rakit-rakit bisa saja dibongkar, suara dompeng menghilang ditelan jarak. Namun bekasnya akan tinggal lebih lama—di dasar sungai, di air yang keruh, dan di ingatan masyarakat yang menyaksikan perubahan itu perlahan.
Sebab sungai bukan sekadar aliran air. Ia adalah saksi, ia adalah rumah bagi kehidupan, dan ia adalah pesan yang terus mengalir ke masa depan: bahwa alam selalu memberi, hingga suatu hari manusia lupa bagaimana cara menjaganya.*(Tim)













