Nono, Sang Jenius Kecil dari NTT yang Menggetarkan Dunia

  • Bagikan
Oplus_0

RETRAEN, KUPANG (GemaNegeri.com) – Di sudut kecil Indonesia Timur, di sebuah desa bernama Retraen di Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, seorang bocah laki-laki berusia delapan tahun menantang batas kemungkinan. Namanya Caesar Archangels Hendrik Meo Tnunay, atau akrab disapa Nono. Ia bukan anak selebritas, bukan pula keturunan konglomerat. Namun, di tangan kecilnya, Indonesia kembali berjaya di pentas dunia.

Nono baru duduk di kelas dua SD Inpres Buraen 2, sebuah sekolah negeri sederhana di pedalaman Nusa Tenggara Timur. Tapi jangan salah. Di balik seragam putih-merah yang lusuh karena debu jalan dan terik matahari, Nono menyimpan kecemerlangan yang luar biasa: juara satu dunia dalam kompetisi matematika internasional International Abacus World Competition, mengalahkan lebih dari 7.000 peserta dari berbagai negara.

 

Perjalanan Kaki, Langkah Menuju Mimpi

Setiap pagi, sebelum mentari menyembul sempurna dari timur, Nono sudah bersiap. Dengan tas punggung usang berisi buku tulis dan pensil, ia menempuh perjalanan sejauh empat kilometer ke sekolah. Tidak ada mobil antar jemput. Hanya sepasang kaki kecil dan semangat besar. Sang ayah, Rafli Meo Tnunay, setia mendampingi, lalu kembali ke ladang untuk bertani.

“Kalau dia rajin sekolah, saya rela capek. Saya tidak ingin dia bernasib seperti saya, hidup dengan cangkul dan tanah,” ujar Rafli dengan suara pelan dan mata yang berkaca-kaca.

Rafli bukan hanya ayah, ia adalah guru pertama Nono. Di malam hari, usai mengolah kebun, ia mengajari Nono berhitung dengan alat sederhana. Setiap jawaban benar disambut senyuman dan pelukan. Mereka tidak punya kalkulator canggih, tapi mereka punya cinta dan waktu — dua hal paling mahal yang sering terlupakan.

 

Mengguncang Dunia dengan Abakus

Prestasi Nono bermula dari ketertarikannya pada matematika dan sempoa. Ia belajar dengan metode visual dan cepat tanggap, memahami angka seperti bermain musik. Ketika akhirnya ia mengikuti seleksi untuk International Abacus World Competition, semua seolah terbuka.

Dengan kecepatan dan ketepatan mengagumkan, Nono berhasil meraih peringkat pertama dunia, menyisihkan ribuan peserta lain dari berbagai negara maju. Kehebatannya membuat dunia bertanya-tanya: siapa anak kecil dari Kupang ini?

 

Sambutan Pahlawan

Saat Nono pulang ke kampungnya setelah dinobatkan sebagai juara dunia, suasana desa berubah menjadi lautan manusia. Warga berjejer di tepi jalan, menyanyikan lagu, menari dengan penuh sukacita. Nono digendong, dibungkus kain adat, dielu-elukan seperti pahlawan. Ia mungkin kecil, tapi langkahnya telah meninggalkan jejak besar bagi NTT dan Indonesia.

“Kami bangga, ini bukan hanya kemenangan Nono. Ini kemenangan anak-anak desa di seluruh Indonesia yang selama ini dianggap tak punya harapan,” kata kepala sekolah SD Inpres Buraen 2.

 

Harapan dari Timur

Kisah Nono bukan hanya tentang angka-angka atau medali emas. Ini adalah kisah tentang semangat, pengorbanan, dan harapan. Di tengah keterbatasan infrastruktur, akses pendidikan, dan ekonomi, Nono telah membuktikan bahwa keajaiban bisa datang dari tempat yang paling sunyi.

Ia adalah suara bagi ribuan anak lain yang berjalan kaki ke sekolah setiap hari, yang belajar dengan cahaya pelita, yang tidak menyerah pada nasib.

Di mata banyak orang, mungkin Nono hanyalah seorang anak kecil dari desa terpencil. Tapi bagi Indonesia — ia adalah bukti hidup bahwa jenius bisa lahir di mana saja.*(ald)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *